Postingan

Menampilkan postingan dengan label Agama

Ketika ''Buya Hamka; Berbicara tentang perempuan''

Gambar
Bismillahirrahmaanirrahiim... Alhamdulillahirrabbil Aalamiin, sampai juga buku yang selama ini ingin saya lahap, meski butuh beberapa waktu untuk menyelesaikannya, sebab curi-curi waktu untuk membacanya. memebaca karya 'Buya Hamka' tentulah tak boleh tergesa, sebab setiap yang ditulis penuh dengan makna. kalau sekarang, bahasanya adalah 'daging semua'. Sudah saatnya karya seperti ini mendobrak, suguhan yang menyegarkan kerongkongan tersebab hausnya ilmu dari seorang ulama. Saya rasa, perang pemikiaran dan propaganda semakin riuh, sedang orang awam yang benar-benar ingin selamat dalam agamanya sendiri semakin terombang-ambing sebab begitu banyak pula buku bacaan yang disodorkan. Anyway, buku yang saya baca yang hendak saya review adalah pandangan Buya Hamka terkait perempuan itu sendiri. Membaca buku ini seakan 'menampar' saya. merenungi, ''Kenapa engkau diciptakan wahai Marifatun Nida' (baca: menjadi perempuan)?"

7 Golongan

....Bismillahirrahmanirrahim عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: اَلْإِمَامُ الْعَادِلُ (1) imam yang adil, وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ (2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allâh, وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْـمَسَاجِدِ (3) seorang yang hatinya bergantung ke masjid, وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اِجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ

Keajaiban Allah: Kisah bertemunya dua Nabi (Musa dan Syu'aib)

Gambar
Bismillahirrahmanirrahim... Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta Alam. Kali ini saya akan sedikit menceritakan kisah di dalam al-qur'an surat Al-Qashash: 23-28 yang saya dapatkan taujih Ustadz KH. Farid Dhofir, dalam kegiatan "يوم مع القرآن" di Masjid Islamic Center, Gresik. Surat ini mengisahkan tentang Nabi Musa, dan untuk ayat 23-28 menceritakan tentang bertemunya dua Nabi (Musa dan Syu'aib), oke check it out, friends! Ayat 23 Berawal dari datangnya Nabi Musa di kota Madyan dan bertemu dengan dua perempuan. Bisa langsung di baca arti ayat tersebut, dan ada satu hal di ayat ini tentang bagaimana konsep perempuan yang bekerja di luar rumah. Dua perempuan tersebut adalah anak dari Nabi Syu'aib. Perempuan yang bekerja di luar rumah 1. Perempuan yang belum menikah>Tanggungannya berada pada ayahnya. 2. Perempuan yang sudah menikah>Tanggungannya berada pada suaminya. *Pengecualian untuk nomor (1), contoh langsung oleh dua anak perempuan ...

Aku masih bertanya-tanya

Gambar
Beberapa hari ini hatiku benar-benar tak tenang, semua terasa mencekam. Ada pilu yang begitu mendasar dalam jiwa, entah hendak ku tumpahkan kesiapa? Hendak kuadukan kemana? Semua terasa di adu domba, apa ini hanya praduga? Bukan! Ini benar-benar nyata. Hatiku menjerit tak bersuara. Kisah sedih di hari minggu kala itu menjadi rentetan ke sekian akan hadirnya sebuah framing yang tidak baik diantara kita. Kenapa yang tersudutkan selalu "kita"? Mendadak orang-orang begitu takut jika anak-anaknya mempelajari Islam sejak dini, mengikuti kajian-kajiannya, lalu nanti dewasa terjangkit virus bahaya berpaham radikal lalu terjadinya hal serupa. Ada yang salah? Jelas! Sesungguhnya Islam yang benar bukan demikian, Islam yang sempurna takkan seperti yang "mereka" kira dan tuduhkan. Lalu mendadak pula kita menjadi phobia sendiri dangan agama ini. Mendadak semua lebih rela jika anaknya tidak paham agama,

Masih ada sisa empati (kah?)

Gambar
Yeay! It's week-end-! Hehehe Jika hari minggu adalah hari spesial bagi sebagian orang, maka saya salah satunya. Tersebab terasa sekali pengaruhnya, ada waktu saya akan pulang ke rumah menghabiskan waktu bersama orang-orang tercinta. Atau jika tak bisa pulang sementara, jadi tetap di tempat kerja, lebih tepatnya perumahan. Seperti pagi ini, lewat jendela kamar saya yang kebetulan depan jalananan, pagi-pagi saya melihat mobil-mobil tetangga para berbaris rapi, tak seperti hari-hari biasa, atau saat siang menjelang. Perumahan ini sudah sepi akan terlihat makin sepi saja seperti tak berpenghuni, tegur dan saling sama menjadi barang mewah disini. Ssst, selengkapnya bolehlah baca tulisan saya terkait ini di postingan beberapa waktu lalu yaa judulnya "...Dulu ,saya juga muslim ,mbk" Saat bermain smartphone dan menikmati kesendirian dalam ruang persegi sambil sesekali melihat jendela, ada gaduh di media sosial saya. Berbagai hastag #prayforsurabaya

Agar (kita) tahu

Gemuruh, ramai-riuh. Ku kira receh receh koin berjatuhan, rupaya ada dentuman yang di suarakan. Puisinya membelalak dunia maya hingga nyata, dengan pernyataannya, satu kalimat pembuka "Aku tak tahu syariat Islam" yang direntet dengan sajak-sajak selanjutnya. Segera, saya berusaha menemukan data valid melalui youtube , tapi apalah daya di tempat yang susah sinyal untuk memungkinkan menonton, maka saya meminta adik saya untuk mengirimkan video yang sudah ia lihat agar dikirimkan via whatsapp yang bisa sewaktu-waktu saya download (ketika sinyal yang oke tiba-tiba mampir). Dan Alhamdulillah, saya melihat video tersebut dengan seksama. Dan sungguh! Zaman ini, zaman yang benar-benarlah semua serba -campur aduk-.

"...Dulu saya juga muslim, mbk"

Gambar
Tanpa mendung.  Tanpa petir dan gemuruh. Tanpa hujan apalagi. Panas dan cerah waktu itu. Tiba-tiba ada seorang bapak datang lalu bertanya, ia adalah tetangga sebelah. Menegur, bertanya dengan nada kasar-keras. Saya yang belum tahu apa-apa, dijelaskan olehnya. Katanya, "mbk, depan-belakang, kanan-kiri anda bukan sesama agama, kita harus hidup rukun. Ini adalah hunian, bukan lembaga" Padahal, waktu lalu kami hanya menumpang gazebo lalu duduk sambil membaca-menghafal Al Qur'an.

Hilangnya Keberkahan

Bismillahirrahmanirrahim, Dengan diawali menyebut Asma Allah,  semoga kita senantiasa terlindungi dari apa-apa yang membahayakan. Pun saya, saya terhindar dari melakukan banyak hal yang kurang berkenan, atau menyalahi tulisan sendiri. Dan kali ini, mari bersama bertafakkur tentang perjalanan hidup kita selama ini, tentang satu hal yang menjadikan hidup kita tenteram yakni sebuah keberkahan. Saya pernah membuat suatu update status whatsapp singkat mengenai sebuah keberkahan, selepas perjalanan siang hari menuju kediaman dari tempat pengabdian kala itu, di perjalanan saya berpikir mengenai kejadian-kejadian tak terduga yang akan terjadi kala saya berkendara, dilanjut malamnya saya membeli makanan lalu saya makan. Saya menyimpulkan satu hal kemudian. Betapa Allah masih sayang kepada kita: Manakala kita berkendara lalu lupa berdoa, masih Allah beri keselamatan sampai tujuan. Manakala kita makan lalu lupa berdoa, masih Allah beri rasa kenyang. Betapa ada satu hal yang kit...