Postingan

Menampilkan postingan dengan label Bapak

Kenang-kenangan yang berpindah tangan

Gambar
"Hey, sepeda e sampean lo masih ada" Kalimat itu mengejutkan saya yang sedari tadi asyik menggunakan smartphone di atas kursi duduk.  "Sepeda apa?" Jawabku kaget. Hehe, itu tadi adik saya mengatakan demikian. "Sepeda e sampean yang biru pas sekolah" ... Lamunanku teringat terakhir kali menggunakan sepeda itu, dua kali di akhir detik-detik saya sekolah di tingkat akhir kala itu menyaksikan kecelakan dengan mata kepala saya. Wush! Dahsyat . Yang pertama, kecelakaan itu saya sendiri dengan sepeda motor yang dikendarai adik kelas saya, hal itu mengguncang batin & fisik saya dan sepeda saya. Tiba di rumah, saya nangis gak karuan. Shock , ditambah sepeda sudah tidak karuan di bagian depan, tapi Alhamdulillah masih bisa dikendarai selamat sampai di rumah. Yang kedua , seakan saya diingatkan kembali oleh kecelakaan kemarin. Pas esoknya saya melihat seorang yang ditabrak oleh sepeda motor, ya Allah memori itu masih begitu terlintas dibenak saya. Ya dua...

And I'll be there

Gambar
Selalu ada tempat tuk menumpahkan semua hal Selalu ada waktu tuk meluapkan semua kejadian Selalu ada ruang untuk kita bertemu Selalu ada saja yang ingin ku adu Seperti malam ini Wajah teduh dan syahdu beriringan datang, ingin segera aku peluk Sentuhan tangan-tangan yang tak bosan menengadah itu, ingin rasanya mengusap derai yang ada dipipi Seperti malam ini Wajah teduh dan syahdu secepat kilat hilang dan lenyap Ingin rasanya segera bercerita banyak, tapi rasanya kemustahilan itu menjadi balasan apa adanya Seperti malam ini Wajah teduh dan syahdu tampak menunggu, menunggu ada yang berbicara

Lima Ramadhan

Alhamdulillah, malam ini saya sholat isya' dan terawih berjamaah di perumahan, tampak masih sesak tiap ruang. "Hehehe ya karena memang mushollanya jauh lebih sempit juga si dibanding rumah-rumah para penduduk perum" (pikir saya dalam hati) musholla inipun ramai dengan semua elemen, para warga perum, para PRT, bahkan anak-anak para penghuni perum juga. Malam ini yang menjadi Imam adalah kepala sekolah saya rupanya, Ustadz Nasyiruddin, Lc. Beliau menyampaikan tentang surat Yusuf.  وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang. QS.Yusuf, Ayat 53

Masihkah ada waktu?

"...Sampai kapanpun, seorang anak akan tetap menjadi anak bagi orangtuanya, setua apapun, bagi orangtua ia adalah anaknya, yang akan mendapatkan kecup dan pelukan. Begitupun dengan seorang kakek-nenek, kepada para cucu mereka... " Momen lebaran, hari raya idul Fitri menjadi bukti bahwa hal diatas akan terjadi. Dulu sekali, saat saya masih suka di bonceng sama bapak naik motor ke rumah mbah (baca: nenek) saat lebaran, rasa-rasanya motor sesak dengan manusia dan barang, betapa tidak, lawong diisi full team (bapak, ibuk, saya dan adik laki-laki saya) sekaligus barang-barang yang akan dibagikan bapak pada ibunya dan juga sanak saudara di kampung halamannya. Rasanya dulu, ingat bagaimana nilai-nilai baik ini belum terasa, semakin kesini saya baru sadar bahwa bapak tak pernah salah mengajarkan arti "The power of silaturrahim". Sesampai di rumah mbah, biasanya sudah malam (ini hanya beberapa yang saya ingat) menjelang ied, bapak sampai.

Waktu kita berdua

Agustus, dua ribu tiga belas… Langkahnya mengantarkan anak perempuan terakhirnya Saat kali pertama jauh dari rumah, tanpa sanak saudaranya Peluk gadis itu pada bapaknya Berpamitan dan kecup salam tangannya Berkata Assalamu'alaikum tanda berpisah sementara Dan akhirnya punggungnya meninggalkan tempat berdiri semula *** Seketikanya... Sedetik biasa saja Semenit setelahnya, ketika bayang sudah diambang dan tak terlihat kasat mata Hatiku membuncah menangis tak terkira Dipojokan rumahNya aku menangis menjadi-jadi tak peduli sekeliling Aku hanya pura-pura tegar saat ada bapak Aku ingin dilihat bapak bahwa aku sudah kuat untuk dilepas jauh dari rumah Aku berharap doa bapak selalu merangkul kala lemah Aku ingin mengharap Ridho bapak bahwa mimpi ini harus terwujud Kala itu, dua ribu tiga belas Awal jauh dari bapak…~ *** Juni, dua ribu enam belas Lima Ramadhan tahun 1437 Hijriyah

Tangannya

Gambar
Yang paling erat menggenggam tanganmu sewaktu bayi adalah kedua orangtuamu, yang tangannya begitu kuat menopangmu, yang tak letih menuntun hingga kau sanggup berjalan sendiri bahkan berlari. Tangannya yang terus memeluk erat jika kau butuhkan, yang ada saat kau bahagia bahkan berduka, rangkulan yang menguatkan kala dadamu sesak sesunggukan, atau bersuka cita atas keberhasilan. Jabat tangannya, cium tangannya, tangannya takkan semulus milikmu, kasar tangannya sebab kerja kerasnya untukmu. Lalu, saat kau jauh dari keduanya, berkilo-kilo jarak pemisah, ruang yang begitu jauh tak terkira. Tangannya menjelma menjadi kehebatan tak terkira, keajaiban tak terduga, yang menembus langit langit angkasa, melangitkan doanya, menengadahkan doa-doa terbaik untuk kebahagiaan dunia dan akhiratmu. Masihkah kau tega membuatnnya bersedih? 

Ringan

Sebagian orang mengatakan bahwa sesuatu yang di ucapkan/bayangkan lebih ringan daripada yang dikerjakan. Jadi mengerjakannya akan terasa berat daripada hanya omong doang/angan-angan. Tapi, Bapakku bukan termasuk sebagian orang tersebut. Bagaimana tidak, dulu kalau aku lagi ngerasa bakal gak bisa ngerjakan suatu hal ya, Bapak selalu bilang "Coba dulu kerjakan, ia akan lebih terasa ringan daripada ucapan/awanganmu (terawang: angan-angan)". Dan seketika dengan -terpaksa- harus kucoba kerjakan. Dan simsalabim, bener kata Bapak, kalau sudah dikerjakan itu bakalan lega dan plong sudah usai, ringan!

Syahdu dan teduh yang bertemu

Syahdu teruntuk orangtua perempuanku yang sungguh mulia. Teduh teruntuk orangtua laki-lakiku terhebat, yang sudah lebih dulu meninggalkan kita. Allahummaghfirlahu~ Hari ini, semua tampak berlomba menyeregamkan dirinya, mulai dari kesukaan hingga life-stylenya. Lalu mereka melupakan jati dirinya, dibungkus sedemikian rupa, dan lagi-lagi agar tampak serupa. Agar tampak berbunga-bunga nan bahagia di media massa. Salah satunya adalah soal pernikahan muda-pasangan suami istri. Sebenarnya, siapakah sosok sepasang suami istri yang pantas kita jadikan contoh?

Terhebat adalah keduanya

Gambar
Teruntuk kedua orangtua yang kasih sayangnya takkan pernah habis~ Semua akan terasa jika sudah tiada, benarlah kutipan lirik lagu ini "...Kalau sudah tiada baru terasa, bahwa kehadirannya sungguh berharga " (Bacanya sambil di nadain gapapa) Cuplikan liriknya yang di pakai amat sederhana, tapi jika di hayati bener-bener sampai pada tiap jiwa-jiwa yang merindu. Bagaimana cerita kalian dengan kedua orangtua kalian? (Share di komen atau inbox bolehlah)~ Kalau saya pribadi, InsyaAllah keduanya menjadi teladan terbaik bagi saya.

Maret 2016, tatapan teduh terakhir darinya

"Hati-hati" kata beliau tanpa banyak penjelasan atau kalimat selanjutnya beberapa waktu lalu~ Sudah menjadi kebiasaan wajib di keluarga saya, ketika hendak keluar rumah atau sampai di rumah akan mencium kedua telapak tangan bapak-ibu. Dan seperti hari-hari sebelumnya hal itu akan dilakukan semua anggota keluarga. Seperti hari-hari sebelumnya hal itu, akan dilakukan semua anggota keluarga. Bahkan saat bapak atau ibu keluar rumah, maka kita anak-anaknya selalu mencium tangan keduanya. Pagi sekitar pukul setengah 7 menuju sekolah, seusai Ibu memasak dan menyiapkan sarapan, maka sayapun berpamitan ke sekolah. Beliau berdua, bapak ibu saya akan saya cium kedua telapak tangannya sambil meminta doa dan mengucap salam.  Itulah kejadian tiap pagi semasa saya sekolah, dan hingga akhirnya seusai Madrasah Aliyah (sederajat dengan SMA). Saya meningalkan rumah dan jauh dari kedua orangtua. Dan ritual demikianpun terus tumbuh baik dalam keluarga saya. Aku suka manakala ibu sudah ...

10 menit tak terduga

"....siapa sangka, ternyata sayalah nama yang disebut olehnya" :D Sebuah kisah dibalik 10 menit tak terduga~ Pagi ini, di minggu awal bulan februari, minggu awal yang pastinya akan diisi dengan pelatihan di yayasan Al Ibrah, lalu saya buka ponsel, melihat pelatihan apa sebenarnya untuk bulan ini, mengingat bahwa tiap bulan pastilah berbeda-beda. Akhirnya saya membuka group WA resmi SMPIT Al Ibrah, disana ada sebuah informasi. "Informasi Pembinaan SDM"   >sabtu, 3 feb 2018 >09.15 - 11.00 wib >aula sdit al ibrah >cara mudah membuat essay bersama ust. Rafif FLP Jatim >175 sdm al ibrah (ustadz/ah) >RTL membuat essay Jazakumullah.  Demikianlah isi pemberitahuan tersebut.  Ada perasaan senang, sebab ada pembinaan kepenulisan, apalagi mengenai essay, makin berlipatlah senang saya. Sebab akhir-akhir ini saya merasa tulisan saya tidak ada arahnya, asal tulis saja, tapi untuk essay kan harus ada aturannya. Maka pukul 9 saya berangkat ke l...

TEDUH

Gambar
Tentang salah satu pesan alm.Bapak~ "Sedalam-dalamnya isi lautan tuh ya, lebih dalam isi hati manusia" Kata Bapak. Dalam satu waktu atau beberapa waktu, saking seringnya saya mendengarkan beliau berkata-kata demikian, kata-kata yang sudah umum dan mendarah daging dalam semua kalangan, kata-kata bukan hasil dari kontemplasi bapak juga :). Sore tadi, tiba-tiba saya rindu berat dengan bapak, pikiran ini melayang sangat pesat menuju dan menari-nari dalam alam bawah sadar menuju beberapa tahun lalu, saya amat merindu kala bapak jemput saya pulang sekolah, mampir membeli es campur, atau saat malam minggu (ups, dan entah saat ini saya tidak berselera menyebut malam itu dengan sebutan itu, lebih tepat sabtu malam aja) dengan membeli makanan favorit kita dan makanan favorit keluarga, atau saat bapak yang sedikit terlambat kala ambil raport yang saya pun sedang dimintai tugas oleh organisasi/sekolah untuk menjaga stand, tiba-tiba melihat beliau datang, dengan baju takwa lengka...

First time

Yang pertama kali akan selalu terkenang. Nida'~ Saat pertama kali… Masih ingatkah kita suatu hal yang pertama kali kita coba? Lalu bersamaan dengan mengerjakannya ada rasa takut, rasa cemas, rasa ragu-ragu, rasa ketidakyakinan, ataupun perasaan-perasaan kebalikannya. Barangkali kita melupakan, tapi sesuatu yang pertama dan berbeda sudah pasti memberi kesan tersendiri. Untuk long term memory mungkin bisa diingat pada usia 5 tahun keatas. Dibwah itu, mungkin hanya sesekali.  Jadi, fase 'pertama kali' kita lakukan, seperti awal kali mampu berdiri dari merangkak,

Jum'at lalu telah berlalu

Embun telah lama menyingsing Berubah menjadi cerah rona kuning Pagi itu selepas istrinya mencuci baju putih miliknya, gadisnyapun telah bersiap merapikan lagi baju putih yang telah kering Ba'da bersiap diri dan meninggalkan roda dua yang telah dipanasi Ia memanggil anak lelakinya Tentu tak melupakan ritual memberi wewangian pada baju putihnya, wewangian khasnya hadiah dari salah seorang sahabatnya yang baru saja ke Baitulloh kala itu Tak lupa menyisiri rambut tak begitu tebal yang nampak senada dengan warna bajunya Dan dengan segera menuju ke rumah Allah dengan suka cita Hari bahagia, Jum'at 5 Ramadhan 1438 H kala itu

Tentang Bekal

Di setiap kejadian selalu mengingatkan. Mengingatkan pada sosok yang selalu di rindu. Ialah almarhum bapak yang tak pernah jemu untuk menasehati anak-anaknya semasa hidup beliau. Dan satu hal yang paling selalu diingat saya pribadi adalah "nasehat ketika pamit untuk meninggalkan rumah" Di setiap pagi hari kala itu, ada hal yang wajib dilakukan sebelum berangkat sekolah, pamit kepada kedua orangtua, dan bapak selalu bilang dua hal, pertama (hati-hati) dan yang kedua (jangan lupa bawa bekal)