Postingan

Menampilkan postingan dengan label Ramadhan1441H

Kalah start atau kalah finish?

Alhamdulillahirabbil Aalamiin, perjalanan menulis di Ramadan Menulis akan segera menemui ujungnya, bukan tersebab bahagia ia telah usai, namun bersedih takkan ada lagi yang begitu bersemangat tiap hari berlomba mengingatkan deadline (Hehe, tapi bisa berlanjut si, sebab sang komandan sudah koar²). Tak apalah, untuk tulisan kali ini dibawakan lebih santai saja.

Tak kenal lelah demi sebuah amanah

Gambar
Alkisah...  "Nanti kamu jangan tidur lagi ya le, hari ini wage, pasar bakalan rame. Bantuin emak pesen becak ke mamang Udin, sayur-mayur ini biar diangkut ke pasar" Pinta Emak pada anak semata wayangnya "Inggih emak, kulo sampun telpon mang Udin tadi jam 3, sebelum kita tahajjud berjamaah dan sahur" Jawab Isyam anak emak "Ya udah, cah bagus. Suwun le" Emak membalas "Mak, aku bantu emak ya nanti ke pasar" lanjut Isyam

Dimulai dari saya

Gambar
Alhamdulillahirrabil Aalamiin, Ramadan memasuki hari ke 13 dan Ramadan Menulis memasuki hari ke tujuh. Hehehe, tema yang di angkat kali ini perlu banyak data agar benar-benar akurat. Temanya adalah: Lingkungan hidup dan ekonomi global. Huwaa... Bagi saya yang jauh dari belajar formal terkait tentang hal ini tentu butuh sekali bacaan tambahan, maka ada beberapa point yang saya dapatkan dan saya garis bawahi.  Bahwa upaya mempertemukan kembali ilmu ekonomi dan inveromental memiliki arti penting  dalam upaya mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Proses pengintegrasian keduanya adalah  melalui perumusan paradigma dan arah kebijakan yang bertumpu pada kemitraan dan partisipasi  para pelaku pembangunan dalam mengelola sumber daya yang seoptimal mungkin. Agar  pembangunan yang dilakukan dapat menumbuhkan perekonomian tanpa menimbulkan banyak  kerusakan lingkungan hidup, maka dibutuhkan adanya konsep pembangunan berkelanjutan,  yaitu konsep pertumbuhan e...

Siapa?

Angin malam ini begitu sepoi, pipiku terhempas beberapa kali. Di atas sofa panjang, ku lihat adikku sedang asyik mengerjakan tugas usai terawih, sesekali ia digoda oleh kakakku, diapun berteriak meminta bantuan ke ibu "Aku belajar buat esok PAT online, mas" Ibukku yang sejak pagi bolak-balik ke pasar membeli bahan makanan untuk berbuka nampak sudah lelah sekali, di tambah tadi adikku meminta beli pulsa sebab paket datanya habis. "Pusing pala mamak nak!"

Menentukan & menemukan diri sendiri

Gambar
Assalamu'alaikum pembaca. Semoga harimu nampak cerah. Semoga Allah tanamkan rasa syukur tak terkira tersebab ruhnya masih di tiupkan kepada kita agar tegak berdiri menyambut mentari pagi ini. Hari kesian, berada di tengah-tengah ketidakpastian, membaca ulang berita, mendengar berita uptodate pun menyaksikan banyak fakta di lapangan. Setelah beberapa waktu saya mencoba memberi jeda berpura-pura meminimalisir berita, setidaknya ada perasaan lega. Namun, ketika melakukan aktivitas untuk peka kembali rasanya ada banyak hal yang memang butuh untuk di doakan ya kawan. Bahkan keluarga terdekat saya begitu merasakan dampak ini di sektor ekonomi (Mohon doanya semua ya) 

Pena dan Kita

Gambar
 ن ۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ Satu ayat yang seketika mengingatkan saya ketika berbicara tentang pena. Lalu, saya mencoba mencari bagaimana tafsir tentang ayat yang menakjubkan ini.  Berikut yang saya kutip melalui sumber (Referensi: https://tafsirweb.com/11089-quran-surat-al-qalam-ayat-1.html)  Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia  . نٓ ۚ (Nun) Ini adalah termasuk huruf-huruf muqattha’ah, sebagaimana yang ada di permulaan banyak surat . وَالْقَلَمِ(demi qalam) Allah bersumpah dengan pena karena digunakan sebagai alat untuk menjelaskan, dan ini mencakup seluruh pena untuk menulis . وَمَا يَسْطُرُونَ(dan apa yang mereka tulis) Yakni ilmu-ilmu yang ditulis manusia dengan pena.

Bersinergi saling menguatkan

Gambar
Halo! Apa kabar semuanya?  Semoga senantiasa dalam keadaan baik-baik semuanya ya. Tak terasa entah sudah pekan keberapa semua harus diminimalisir arah geraknya ya. Tak terkecuali pada sektor pendidikan. Yup! Tulisan terkini saya takkan jauh-jauh dari bahasan pandemi dan segala bentuk dampaknya. Dan kali ini persilahkanlah saya menjawab persoalan ini dalam dunia pendidikan yang mendapat imbasnya.  Seperti yang kita ketahui semuanya, bahwa ketika himbauan pemerintah untuk work from home,  sekolah yang menjadi pusat keramaian setiap harinya tentu menjadi sorotan. Dan ketika maklumat tersebut dilaksanakan, ada sebuah kritikan pedas yang sangat tertuju kepada para pendidik. Work from home  untuk pendidik ini tentu berbanding lurus dengan Learn from home bagi peserta didik, dan wali murid alias orangtua menjadi lebih intensif mengetahui perkembangan anaknya selama di rumah. 

Ramadan yang selalu istimewa

Gambar
"Bagaimanapun keadaannya saat kedatanganmu, kau tetap istimewa.  Dan sambutan untukmu harus selalu meriah." -Masrifatun Nida'- Dewasa ini, keadaan kita sedang tidak baik baik saja. Tentu, sudah kita ketahui jika pendemi begitu menyita perhatian hati dan fisik kita. Allah menguji segala bentuk perasaan kita saat wabah ini datang tepatnya ketika di bulan mulia. Masihkah kita bisa mengistimewakannya? Sangat bisa, dan rasanyapun memasuki hari ke tujuh, Ramadhan tetaplah Ramadhan yang di nantikan kehadirannya. Lantas bagaimana dengan sambutannya? Apakah sama seperti sebelumnya yang begitu meriah? Mungkin, untuk menjawab persoalan ini hati kita perlu menepi dari hiruk pikuk keegoisan terlebih dahulu, menyampaikan dan meresapi ke dalam hati. Dan jawabannya adalah, meriah bukanlah sebentuk sambutan yang cukup lewat seremoni dan juga kasat mata. Namun, lebih tepatnya ia bersemayam pada jiwa tiap mukmin. Apapun keadaannya, bahkan jika sekalipun tak ada acara sahur on thr...

Semoga keadaan jauh lebih baik

Apapun yang dilakukan sendirian untuk saat ini, cukup menyedihkan bagiku. Ramadhan sudah tuntas tiga hari kita kerjakan. Namun, di sebagian perasaan tersimpan kerinduan untuk melakukannya bersama. Sahur bersama, berjamaah bersama, melakukan aktivitas bersama, dan juga berbuka bersama. Namun, semoga apa-apa yang tengah terjadi, tak menyurutkan sedikitpun hati kecewa. Sebab, semua sudah ada takarannya. Ikhlaskan, sabar. Bismillah keaadan segera membaik. Teruntuk bundaku tersayang,  شفاك الله ... لا بأس طهور إن شاء الله... 

Semua pasti berlalu

Di dunia ini semuanya berputar, dinamis, melesat dengan tiada terduga. Termasuk bahagia, sedih, sehat, sakit, semuanya pasti berlalu. Maka, bersikap tidak berlebihan di tiap momentnya. Semoga yang sedang berbahagia mampu mengontrol diri, yang sedang sedih meluapkannya pada tempat terbaik, yang sedang sehat senantiasa bersyukur, dan yang sakit senantiasa ikhlas bersabar. Ingat, akan ada waktunya semua berlalu.

Hari ini belajar apa?

Gambar
Alhamdulillahillah 'ala kulli haal, diatas segala keterbatasan kita saat ini ada sabar yang mengalun indah untuk terus dijunjung tinggi, ada syukur yang harus terus dirapal tiada henti.  "....., selalu tebar kebaikan di manapun dan kapanpun nggeh 🙏." Kalimat yang masuk disalah satu chat pribadi media sosial malam ini seakan membius diri ini, lalu menelisik kedalam hati apa saja yang sudah dilakukan seharian ini? Begitu gumamku dalam hati. Minimal, sudahkah aku belajar banyak untuk hari ini dalam menyambut Ramadhan?