Postingan

Menampilkan postingan dengan label Sajak

Pantaskah ku berbahagia?

Gambar
Gema takbir menyala Membelalak langit malam bercahaya Allahu Akbar  Allahu Akbar Allahu Akbar Laa Ilaaha Illallah Huwallahu Akbar wa Lillahil Hamd Allah Maha Besar Anak-anak terus bersemangat Mengumandangkan Asma-Nya Allahu Akbar

Berhenti

Nampak senja ranum di ujung petang Berubah gelap tanpa cahaya surya Namun gemerlap bintang mengalunkan indah memancarkan terangnya Aku menatap langit luas malam ini Nampak sepi selepas hujan sore tadi Aku menatap jendela yang terbuka menganga Sura desau semilir angin dan pepohonan Sepi, tanpa suara selain daripadanya

Selepas hujan (2)

Gambar
Aku ingin menjadi hujan Kalaupun tidak Aku ingin menari bersama hujan Aku ingin menjadi hujan Kalaupun tidak Aku ingin berteriak diantara hujan Aku ingin menjadi hujan Hujan yang lepas Selepas hujan Aku ingin menjadi hujan Tanpa beban Lepas Aku ingin menjadi hujan

And I'll be there

Gambar
Selalu ada tempat tuk menumpahkan semua hal Selalu ada waktu tuk meluapkan semua kejadian Selalu ada ruang untuk kita bertemu Selalu ada saja yang ingin ku adu Seperti malam ini Wajah teduh dan syahdu beriringan datang, ingin segera aku peluk Sentuhan tangan-tangan yang tak bosan menengadah itu, ingin rasanya mengusap derai yang ada dipipi Seperti malam ini Wajah teduh dan syahdu secepat kilat hilang dan lenyap Ingin rasanya segera bercerita banyak, tapi rasanya kemustahilan itu menjadi balasan apa adanya Seperti malam ini Wajah teduh dan syahdu tampak menunggu, menunggu ada yang berbicara

Selepas hujan

Gambar
Desember memasuki beberapa harinya Tak terasa, waktu-waktu kita telah habis menguap bersama Dua ribu sembilan belas akan tutup buku beberapa tanggal lagi Aku rasa, tahun ini adalah tahun penuh 'misteri' Meski selepas guyuran hujan membasahi relung hati Kau berhak tersenyum lagi, mengucap lirih "Allah Mahabaik" Sebab begitu banyak 'kejutan' yang telah dan akan dihadiahkan

Aku takut...

Di kota yang serba hiruk pikuk Semua melaju dengan kencangnya Dunia seakan berlomba Begitu pula di dunia pendidikan Di tempat yang layak Di dalam nuansa yang tenang Namun ada sesuatu yang mengancam Sangat kasat tak terlihat mata Tapi benar, ia menyusup dalam sukma

Gerimis

Beribu kata takkan sampai tuk diutarakan  Beribu rasa pun tak bisa digambarkan Beribu pelukan takkan puas dieratkan Beribu kecupan sayang takkan bisa tergantikan Maaf Sesenggukan jika teringat masih belum juga dapat membahagiakan Malu Basah pipiku jika sadar sesungguhnya cintamu takkan dapat tergantikan Di ufuk barat sana, matahari telah kembali ke peraduannya Tapi perhatianmu takkan pernah hilang di telan zaman Malam telah menyelimuti, tinggal lah sepi Tapi riuhnya doamu takkan pernah hilang walau hanya sesenti

Kata kataku terhenti (lagi)

Sudah lama ia tak datang Kemanakah perginya?  Memang bukan musimnya Tapi kenapa Sapardi berpuisi hujan bulan Juni?  Beberapa ku rindu hujan di bulan Juni Tapi musatahil terjadi Di penghujung Juni ini Di ambang pintu ku menanti Tak bisa berkata kata lagi Mengharap yang takkan ditemui Apa ini hanya perasaanku saja Hingga ku tak mampu menulis sajak lagi

Tumpah

Malam ini, malam ini terakhir kami duduk berbaris Malam ini, malam ini terakhir kita merapatkan shaf bersama Malam ini, air mataku tumpah Ukhuwah ini terjalin begitu erat duhai kawan dan anak-anakku Malam ini, bacaan ayat sang Imam meyayat hatiku Seakan semua artinya nampak dihadapan wajahku Malam ini, setiap rakaat tiba tiba ada air yang membasahi pipiku Ku usap, lalu tak tertahan mengalir lagi Tumpah Malam ini, aku rindu semuanya Rindu kehangatan keluarga Rindu sosok yang telah tiada Rindu menjadi pribadi yang lebih baik lagi Malam ini, rasanya tak mau lama-lama pamit dari ruang ini Malam ini, rasanya ku tak mau beranjak pergi Air mataku tumpah Malam ini, semoga bukan malam terakhir ku berjumpa denganmu ya Ramadhan Malam ini, semoga menjadi salah satu malam terindah ku menikmati setiap gerak ruku' sujudku Malam ini, semuanya tumpah Dan ku tak sanggup membendungnya Masrifatun Nida' Gresik, 16 Ramadhan 1440H

Sampai nanti takkan memahami

Gambar
"Benar memang, jika kita terlalu mudah memberikan penilaian terhadap seseorang dibanding menilai diri sendiri. Bahkan, terkadang terlalu berlebihan tanpa ada dasar pasti bagaimana orang tersebut." Semua tampak lebih baik-buruk di mata kita terhadap orang lain. Seusai duduk berjam-jam dan bercerita, kita akan tahu sebenarnya apa yang ia rasakan selama ini. Seusai melakukan perjalanan dan mengetahui bagaimana sikapnya, kita baru tahu sebenarnya apa yang ia alami selama ini. Seusai tinggal bersama dan mengetahui kesehariannya, kita tahu manusia seperti apakah ia.  Ah, salah.

Menikmati bersama

Gambar
(25/12/18) Aku: Kalimat magic bagi seseorang yang dirundung rindu untuk bertemu sekaligus kesibukan jadwal penuh adalah "Bukan mencari waktu luang, tapi meluangkan waktu" agaknya kalimat sederhana itu mampu menjadi energi bagi mereka yang menaklukkannya dengan pembuktian. Seperti hari kemarin Tentang kita Tak banyak kata Hanya sebuah pengharapan saja Tak banyak bagaimana Hanya sebuah kalimat kita lihat nanti saja Tak banyak bertanya Hanya sebuah jawaban singkat iya saja Tak banyak harus apa Hanya menikmati waktu yang sudah Tuhan beri Seperti hari kemarin Aku syukur berbahagia

Reda | Jeda | Kata

Gambar
Reda Apakah kau tahu mengapa?  Seusai tetesan rinai menghujam tanah Terkapar dedaunan basah sebab datangnya Jeda Mengapa harus ada?  Sebab darinya banyak memahami Sadar bahwa ada yang sempat mengajak berjalan bersama Kata Darimanakah asalnya?  Huruf-huruf yang menjelma Bahwa dari yang kecil akan membentuk sebuah makna

Kembali bertemu, bertemu kembali

(25/12/18) Duhai waktu, hari-hari ini kau mengajarkan banyak arti Tentang menunggu Tentang bertemu Lalu kembali Duhai kesempatan, hari hari ini kau mengajarkan ketidaksia-siaan Tentang mengambil keputusan  Tentang memilih Tentang menerima Tentang melakukan yang terbaik saat ini Duhai kau, hari hari ini yang telah mengajarkan apa arti setia Tentang menahan Tentang menjaga Tentang mengerti antar sesama Kita kembali tuk bertemu  Atau kita bertemu tuk kembali 

Kembali lagi(?)

Puing-puing// Jatuh //Berserakan Untukmu masalah, terima kasih sudah hadir. Aku jadi tidak repot-repot kan mengetahui mana kawan dan lawan(?) Untukmu masalah, terima kasih sudi mampir. Aku jadi tahu kan siapa yang berhak aku mintai pertolongan(?) Untukmu masalah, terima kasih pernah memberi kisah. Aku jadi paham kepada siapa harusnya aku mendekat(?) Untukmu masalah, terima kasih telah memberi arti. Aku mengerti bahwa Allahlah sebaik-baik tempat kembali. Behinde the scene: 

Kau tak selamanya bersama dekapan ibu

Gambar
Pernah ku mengutuki gemerlap warna warni di bawah dataran Mengapa mereka begitu nyenyak menikmati gelap(?) Sedang ku terseok menuju ketinggian Pernah ku menangis tersedu sebab semua terasa asing Aku sendiri Dimana ini(?) Lalu ku tatap rembulan nun tinggi itu Titip rindu pada insan syahdu Merindu pada sosok terkuat, yang dengan cintanya rela membawaku Yang begitu erat nan dekat bersama dalam satu tubuh Kemanapun sekitar sembilan bulan kala itu Kini, Takkan sama seperti dahulu Sejauh apapun perjalanan Sekeras apapun rintangan Sesepi apapun keadaan "Kau harus sanggup bertahan! Lanjutkan langkahmu! Sebab, kau tak selamanya bersama dekapan ibu"

Jarak

Gambar
Riuh rendah hati berbisik Menguatkan sukma Bahwa keputusan, sudah di timbang-timbang Bukan karena ego, sebab mencarinya dalam kejernihan Namun, sebab bahagia bersama yang diharapkan sejatinya -nanti- Hal itu, jika caranya salah maaf Jika waktunya kurang tepat maaf Di ujung sana, ada yang begitu teduh menjawab kegundahan jiwanya Pelan-pelan Tak pernah sedikitpun membalas dengan yang serupa, tapi selalu menenangkan Selalu, bagian itu yang sejak lama telah membuatnya tersihir Terima kasih, sudah menjadi baik

Suatu hari

Gambar
Nanti, pada suatu hari akan ada yang mengajakmu masuk dalam marabahaya. Sesuatu yang penuh dengan ketidakpastian. Sebab, semua masih terasa samar-samar tak dapat diterka. Tentang menunggu sesuatu yang barangkali tak bisa kau lakukan saat dulu, dan kau harus mencobanya sekarang. Tentang mendapati begitu banyak keajaiban di perjalanan. Nanti, pada suatu hari akan ada yang bersiap berada di sampingmu sepanjang waktu tiada henti. Menjalani dan menikmati bersama waktu-waktu menantang dan juga tak pasti. Nanti, pada suatu hari ia akan membisikkan sesuatu kepadamu

TANPAMU, Aku bisa apa?

"Sajakku hadir kembali Pada aksara yang tak tertulis sebab hendak mati Energiku tumbuh kembali Pada jiwa yang merindu kepercayaan jati diri Dan KAU selalu ada, tak kemana-mana, tapi kurasa keberadaan itu lebih dekat kali ini Pada hati yang sebelumnya masih merasa sendiri" -Singkat sajakku yang kembali- Manusia itu takkan bisa hidup sendiri, selalu mengharap orang lain disisinya, selama hal itu menambah kebaikan-kebaikan dalam irama kehidupannya. Ia selalu membutuhkan seseorang itu. Bahwa benar, sesorang yang mampu memberi energi luar biasa, mampu melipatgandakan kebaikan-kebaikan yang hendak dilakukan. Seseorang itu yang berada disekelilingnya, yang tampak sekali, bisa keluarga, teman, sahabat, rekan kerja, anak didiknya dan lainnya. Pun bisa jadi yang tersimpan dihati, seseorang yang sanggup membuat berkalilipat semangatnya berbuat kebaikan, melakukan perbaikan hingga kini dan sampai nanti. Dan seseorang itu bisa jadi tidak tahu dengannya, pun dia rapat menyimpann...

Dekat dan sederhana, cinta

Gambar
Ada yang tengah berjuang menerjang ramainya kendaraaan Ada yang telah menyingkap berkilo-kilo meter jalanan Ada yang sedang berdesakkan didalam angkutan kendaraan Ada yang menahan kesabaran di tengah lalu lintas kemacetan Demi menunaikan rindu yang lama telah bersemayam

Ingin melupakan duniaku untuk mengingatMu

Ketika Takbirotul Ihram dilaksanakan, maka gerak kedua telapak tangan mengikuti, lisan mengucap kalimat takbir, lalu hati berniat khusyu' menjalankan ibadah. Sesekali terbersit, kejadian-kejadian yang tak dan yang iya diharapkan, tiba-tiba saja teringat hal-hal kurang penting bahkan tidak penting. Lalu lalai, mata terkantuk-kantuk, hati yang lari-lari kesana kemari, lupa bacaan, lupa jumlah rakaat. Hingga akhirnya sampailah pada sujud akhir. "Astaghfirullah, sudah khusyu' kah ibadah kali ini ya Rabby?" lalu tasyahud akhir, salam.