Meski kau "meninggal"kan pergi Mimpiku harus terus hidup abadi
"Di sepertiga malam Di malam pekat Mendengar riuhnya doa diuntai Bahwa mimpi yang sempatku ceritakan padamu Kau adukan padaNya" Terkejut! Kabar itu seakan menghentak jantungku, membuat detaknya melambat bahkan terhenti. Mendengar kabar bahwa bapak meninggal -pergi selamanya-. Ah semua pembohong! Di dekat jendela kendaraan roda empat, hatiku menggumam, semua ini mimpi buruk! Kabar itu dusta kan? Sesungukan- memejamkan mata, tapi tak tenang. Jalanan begitu sepi pada pukul dua malam, di bulan penuh berkah-Ramadhan 1437H-. Sampai di rumah, ku lihat sudah ramai saudara, ramai sekali. Tapi aneh, bapak tak ikut serta. Menangis! Bapak sudah terbaring kaku. Bapak tak menjawab salamku. Benar, bapak meninggalku pergi. Tersadar! Seusai paham apa yang telah terjadi malam itu, ku rapikan lagi mimpi. Ada yang belum selesai di tanah rantau, maka akan segera aku tuntaskan, meski beberapa harus aku "banting setir" jua.