Postingan

Menampilkan postingan dengan label Ibu

Malam Refleksi

Gambar
Setelah menjadi seorang ibu dari toddler usia 2 tahunan, ada saja hal yang membuat dar-der-dor di setiap harinya, seorang anak yang bertambah keingin tahuannya, bertambah pula ucapan kata-katanya serta tingkah lakunya. Adakala dimana hari terasa begitu hangat, terasa begitu berwarna pun ada hari dimana terasa begitu penuh dengan penyesalan. Hari itu adalah hari dimana ketika seorang ibu tak dapat mengontrol emosinya. Dan hari itu pernah terjadi kepada saya, saya tak dapat menahan luapan emosi yang tak karuan, untung saja saya lalu mencoba tarik napas sejenak, beristighfar lalu mengelus anak saya tersebut, menangis dan meminta maaf. Saya benar-benar kelepasan dan malu rasanya melakukan demikian. Entah berapa buku yang saya baca, berapa podcast yang telah saya dengar, kala itu seakan saya kalah dengan emosi saya, dan lenyap semua ilmu parenting dari profesional. (Untungnya saya masih ingat hal pertama-tama yang harus dilakukan.) Menjadi seorang ibu dan perempuan tak luput dad...

Semoga keadaan jauh lebih baik

Apapun yang dilakukan sendirian untuk saat ini, cukup menyedihkan bagiku. Ramadhan sudah tuntas tiga hari kita kerjakan. Namun, di sebagian perasaan tersimpan kerinduan untuk melakukannya bersama. Sahur bersama, berjamaah bersama, melakukan aktivitas bersama, dan juga berbuka bersama. Namun, semoga apa-apa yang tengah terjadi, tak menyurutkan sedikitpun hati kecewa. Sebab, semua sudah ada takarannya. Ikhlaskan, sabar. Bismillah keaadan segera membaik. Teruntuk bundaku tersayang,  شفاك الله ... لا بأس طهور إن شاء الله... 

Nahkoda dan Samudra

Hari ini, bisa jadi hatinya berkeping-keping runtuh kembali, berserakan, dan ia mencoba menata kembali, tapi belum begitu kuat, rapuh. Hari ini, bisa jadi air matanya tak tumpah, tapi badannya bergetar hebat, jantungnya berdegup lebih kencang, menahan beban hebat yang menimpa. Hari ini, bisa jadi tatapannya kosong, namun di dalam kedalaman sukmanya mengaga sebuah luka. Hari ini, ia berduka kembali, di samudra yang luas ini ia di tinggalkan kembali (tanpa nahkoda). Hari ini, ia menengadah ke atas, mendongak di atas layar kapal besar diatas samudra luas , menatap tajam langit yang sama luasnya, bahkan lebih luas. "Allah, bersamamu bundaku sayang"

And I'll be there

Gambar
Selalu ada tempat tuk menumpahkan semua hal Selalu ada waktu tuk meluapkan semua kejadian Selalu ada ruang untuk kita bertemu Selalu ada saja yang ingin ku adu Seperti malam ini Wajah teduh dan syahdu beriringan datang, ingin segera aku peluk Sentuhan tangan-tangan yang tak bosan menengadah itu, ingin rasanya mengusap derai yang ada dipipi Seperti malam ini Wajah teduh dan syahdu secepat kilat hilang dan lenyap Ingin rasanya segera bercerita banyak, tapi rasanya kemustahilan itu menjadi balasan apa adanya Seperti malam ini Wajah teduh dan syahdu tampak menunggu, menunggu ada yang berbicara

Gerimis

Beribu kata takkan sampai tuk diutarakan  Beribu rasa pun tak bisa digambarkan Beribu pelukan takkan puas dieratkan Beribu kecupan sayang takkan bisa tergantikan Maaf Sesenggukan jika teringat masih belum juga dapat membahagiakan Malu Basah pipiku jika sadar sesungguhnya cintamu takkan dapat tergantikan Di ufuk barat sana, matahari telah kembali ke peraduannya Tapi perhatianmu takkan pernah hilang di telan zaman Malam telah menyelimuti, tinggal lah sepi Tapi riuhnya doamu takkan pernah hilang walau hanya sesenti

Kau tak selamanya bersama dekapan ibu

Gambar
Pernah ku mengutuki gemerlap warna warni di bawah dataran Mengapa mereka begitu nyenyak menikmati gelap(?) Sedang ku terseok menuju ketinggian Pernah ku menangis tersedu sebab semua terasa asing Aku sendiri Dimana ini(?) Lalu ku tatap rembulan nun tinggi itu Titip rindu pada insan syahdu Merindu pada sosok terkuat, yang dengan cintanya rela membawaku Yang begitu erat nan dekat bersama dalam satu tubuh Kemanapun sekitar sembilan bulan kala itu Kini, Takkan sama seperti dahulu Sejauh apapun perjalanan Sekeras apapun rintangan Sesepi apapun keadaan "Kau harus sanggup bertahan! Lanjutkan langkahmu! Sebab, kau tak selamanya bersama dekapan ibu"

Tangannya

Gambar
Yang paling erat menggenggam tanganmu sewaktu bayi adalah kedua orangtuamu, yang tangannya begitu kuat menopangmu, yang tak letih menuntun hingga kau sanggup berjalan sendiri bahkan berlari. Tangannya yang terus memeluk erat jika kau butuhkan, yang ada saat kau bahagia bahkan berduka, rangkulan yang menguatkan kala dadamu sesak sesunggukan, atau bersuka cita atas keberhasilan. Jabat tangannya, cium tangannya, tangannya takkan semulus milikmu, kasar tangannya sebab kerja kerasnya untukmu. Lalu, saat kau jauh dari keduanya, berkilo-kilo jarak pemisah, ruang yang begitu jauh tak terkira. Tangannya menjelma menjadi kehebatan tak terkira, keajaiban tak terduga, yang menembus langit langit angkasa, melangitkan doanya, menengadahkan doa-doa terbaik untuk kebahagiaan dunia dan akhiratmu. Masihkah kau tega membuatnnya bersedih? 

Syahdu dan teduh yang bertemu

Syahdu teruntuk orangtua perempuanku yang sungguh mulia. Teduh teruntuk orangtua laki-lakiku terhebat, yang sudah lebih dulu meninggalkan kita. Allahummaghfirlahu~ Hari ini, semua tampak berlomba menyeregamkan dirinya, mulai dari kesukaan hingga life-stylenya. Lalu mereka melupakan jati dirinya, dibungkus sedemikian rupa, dan lagi-lagi agar tampak serupa. Agar tampak berbunga-bunga nan bahagia di media massa. Salah satunya adalah soal pernikahan muda-pasangan suami istri. Sebenarnya, siapakah sosok sepasang suami istri yang pantas kita jadikan contoh?

Terhebat adalah keduanya

Gambar
Teruntuk kedua orangtua yang kasih sayangnya takkan pernah habis~ Semua akan terasa jika sudah tiada, benarlah kutipan lirik lagu ini "...Kalau sudah tiada baru terasa, bahwa kehadirannya sungguh berharga " (Bacanya sambil di nadain gapapa) Cuplikan liriknya yang di pakai amat sederhana, tapi jika di hayati bener-bener sampai pada tiap jiwa-jiwa yang merindu. Bagaimana cerita kalian dengan kedua orangtua kalian? (Share di komen atau inbox bolehlah)~ Kalau saya pribadi, InsyaAllah keduanya menjadi teladan terbaik bagi saya.

SYAHDU

Surga terdekat itu pada ibu~ "....Sudahlah" Suaranya pelan dan syahdu. Kata-kata penuh legowo, mana kala banyak hal yang dilakukan dan menunggu hasil dari banyak proses yang sudah di jalani. Beliaulah orangtua perempuan saya, perempuan yang dengan sepenuh kelembutan mengajarkan saya banyak hal, sungguh benar jika ibu adalah madrasah pertama, benar saya akui, beliaulah yang mengajarkan saya mulai dari abc, أ ب ت , atau 123, hingga pelajaran hidup lainnya. Beliau, manusia yang tak pernah tergesa-gesa, tak pernah sedikitpun mengeluh, saya banyak belajar arti syukur dan sabar sebab beliau [kan jadi mendadak pipi banjir begini :( ] Pengorbaan dan kelegaan~ Hujan-hujan sore kemarin jadi ingat satu hal waktu masih SD 'eh maksudnya MI kala selesai mengaji dan hujan deras mengguyur, beliaulah perempuan baik hati yang menjemput membawakan payung agar saya bisa pulang, saat saya masih ngaji bersama mbak, cak dan adik. Lalu jadi ingat manakala sebelum berangkat sekolah sara...

Kelak, mampukah aku setangguh engkau, wahai ibu?

(Bagian termulia- perempuan) "Siapa yang menghebatkan kita? Beliaulah Ibu. Ibu yang tak pernah merasa beban membawa kita sembilan bulan.  Ibu yang melahirkan kita lalu mempertaruhkan nyawanya. Ibu yang dengan kesabarannya, merawat, mendidik lantas menumbuhkan kita. Ibu yang tak pernah marah meski sering kali kita berbuat salah. Ibu yang dengan ikhlas melepas kita menuju tempat singgah guna menuntut ilmu dalam waktu yang lama. Lalu, Ibu yang sanggup menutupi air matanya kala kita kelak sudah tak tinggal serumah.    Lantas, sudah sampai mana baktimu padanya?" Sama seperti subuh-subuh yang lalu, selepas berjama'ah bersama dan mempersiapkan semuanya, berpamitan kepada sanak keluarga dan saudara, perempuan yang bersama dalam satu shaf itu telah siap mengantarmu hingga di pintu depan rumah, adik laki-lakimu siap mengantarmu juga, lalu adegan yang selalu sama selalu tercipta, haru biru saling melepaskan. Dan diam-diam kau naik diatas roda dua sambil sesunggukan me...