Malam Refleksi
Setelah menjadi seorang ibu dari toddler usia 2 tahunan, ada saja hal yang membuat dar-der-dor di setiap harinya, seorang anak yang bertambah keingin tahuannya, bertambah pula ucapan kata-katanya serta tingkah lakunya. Adakala dimana hari terasa begitu hangat, terasa begitu berwarna pun ada hari dimana terasa begitu penuh dengan penyesalan.
Hari itu adalah hari dimana ketika seorang ibu tak dapat mengontrol emosinya. Dan hari itu pernah terjadi kepada saya, saya tak dapat menahan luapan emosi yang tak karuan, untung saja saya lalu mencoba tarik napas sejenak, beristighfar lalu mengelus anak saya tersebut, menangis dan meminta maaf. Saya benar-benar kelepasan dan malu rasanya melakukan demikian. Entah berapa buku yang saya baca, berapa podcast yang telah saya dengar, kala itu seakan saya kalah dengan emosi saya, dan lenyap semua ilmu parenting dari profesional. (Untungnya saya masih ingat hal pertama-tama yang harus dilakukan.)
Menjadi seorang ibu dan perempuan tak luput dadi pikiran yang multithingking, kadang ingin sekali menuntaskan list di kepala lewat tindakan, namun ketika seorang anak memiliki trouble saat ia bermain, dan ia belum dapat memecahkannya sendirian, lalu keluarlah teriakan kencang membuat hati seorang ibu ikut ketrigger gemas.
"Ada apa nak?" Tanyaku pelan awalnya. Eh malah tidak di respon, dia malah menjerit dan menangis. Atau saat kita melakukan sesuatu untuknya namun tidak sesuai dengan harapannya, duh kacau endingnya ini.
Sejak saat itu, saya berjanji pada diri sendiri untuk tidak akan pernah mengulangi momen menyeramkan itu lagi. Saya tidak mau memberikan memori buruk di dalam otak dan hatinya. Setelah saya sadar melakukan segala hal tersebut, berulang kali saya memeluknya, meminta maaf padanya, menunjukkan padanya bahwa perbuatan saya salah dan buruk.
Yah, jadi ibu memang harus pandai menempatkan diri, mengatur emosinya lebih baik lagi. Alhamdulillah, setelah kejadian itu saya bercerita kepada suami saya, dan meminta maaf atas kejadian tak terduga itu.
Setiap hari selalu menjadi momen refleksi diri saya, terlebih menjalani peran sebagai seorang ibu, saya sering kali takut jika esok hari saya tidak lebih sabar.
Maka saya selalu meminta kepada Yang Menciptakan saya untuk di berikan kekuatan dan kesabaran. Ya setiap hari. Sebab, tanpa Ridho Allah, apalah daya menjalani hari-hari. Menemani dan mendidik anak yang masyaAllah luar biasa perjuangannya.
Kalau begini, Saya selalu mellow jadi teringat kedua ibu saya. Beliau selalu memberikan teladan nyata kepada saya. Saya terus berpikir "Beliau berdua masyaAllah, InsyaAllah surga tempat beliau" membesarkan anak dengan segala keterbatasan pada zaman itu, beliau mampu.
Semoga sehat dan berkah selalu emak dan ibu. Terima kasih atas segala kebaikan dan kemurahan hatimu kepadaku.
Mendidik anak adalah amanah, dan seorang ibu menunaikannya dengan sabar, doa, dan keteladanan.(QS. Al-Ahqaf: 15 – tentang pengorbanan ibu)
Sumba, 08 Januari 2026
Masrifatun Nida'
Komentar
Posting Komentar