Malam-malam akhir tahun
Saya bukan tipe yang melakukan ritual tertentu saat malam akhir tahun, sering kali waktu itu saya gunakan untuk tidur pulas, sebab hari sebelumnya sudah menulis banyak sekali resolusi. Hahaha (Meski ya banyak juga si evaluasinya).
Namun, ada hal yang berbeda saya rasakan saat menikmati malam-malam akhir tahun di Sumba, kebetulan saat pergantian tahun 2023 menuju tahun 2024 saya sekeluarga menetap di Sumba, saat itu anak kami berusia bulanan, dan saya masih ingat betul bagaimana puncak malam akhir tahun kala itu sangat meriah, seingat saya bahkan sampai pukul 2 pagi WITA, suara dentuman kembang api masih terdengar, Alhamdulillahnya anak kami tidak terbangun.
Saya jadi sempat khawatir pada akhir tahun 2025 kemarin, saya takut jika tidak bisa tertidur nyenyak dan anak saya ikut terganggu. Dan nampaknya benar dugaan saya, saat itu mata saya tidak dapat terlelap hingga pukul 3 pagi WITA. Dan saya baru tahu banyak hal menarik yang ada di Sumba saat malam-malam akhir tahun. Dan berikut diantaranya;
1. Pada malam tanggal 25 Desember, para masyarakat katolik dan kristen memenuhi gereja mereka. Beberapa jalan akan ditutup sebab mereka sedang beribadah. Saat itu kebetulan kami hendak ke apotek untuk membeli obat. Di tengah jalan, saya bertanya ke suami "Apakah mereka hanya beribadah mas? Maksudku apakah ada perayaan lain? Atau mungkin nanti di akhir tahun saja?" Saya sibuk bertanya-tanya penasaran. Suamiku menjawab "Wah, tidak tahu dek" Suamiku jarang sekali menjawab (tidak tahu) jika saya bertanya, ya! sepertinya saya paham mengapa di jawab demikian. 😅🙏🏻
2. Rupanya saat saya terbangun tengah malam, ada suara mercon dan kembang api ramai sekali. Berarti mereka merayakan juga malam 25 Desember.
3. Saya jadi teringat ada anak gadis kecil yang bertanya padaku "Mama Adeeva, apa warna pohon natalnya?" Saya menjawab, (Kami tidak ada pohon natal, kami muslim. Wah kalau pohon natal Olvi warna apa?) Ia pun menjawab "warna pohon natalku biru".
Ya, disini meriah sekali, hampir setiap rumah memiliki pohon natal, apalagi rumah pejabat atau kios dan fasilitas umum, penuh dengan aneka ornamen dan lampu warna warni menyamput natal dan tahun baru.
4. Di depan kantor bupati, terdapat jajaran pohon natal dengan kreasi dari banyak orang dan instansi, pun banyak sekali stand-stand makanan yang berjejer buka setiap malam hingga puncak tahun baru.
5. Malam tahun baru disini meriah sekali, benar dugaan saya ramai sekali suaranya kala itu. Hingga larut malam, dini hari.
6. Meski semalam hingga larut pagi mereka merayakan, seluruh gereja pada tanggal 1 Januari penuh dengan jemaat.
Ini, adalah sebuah fenomena menarik yang baru saya tahu, dan sebagai minoritas muslim disini, saya semakin yakin akan firman Allah SWT dan pesan Rosullullah SAW, yakni.
📖 Al-Qur’an Surah Al-Kāfirūn (109) ayat 6
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
“Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku.”
🕊️ Asbābun Nuzūl (Latar Belakang Turunnya)
Surah ini turun ketika para pemuka Quraisy menawarkan kompromi akidah kepada Rasulullah ﷺ: Mereka mengusulkan agar Nabi menyembah tuhan mereka setahun, dan mereka akan menyembah Allah setahun berikutnya.
Ayat ini turun sebagai penegasan sikap tegas Rasulullah ﷺ, bahwa:
● Akidah tidak bisa ditawar.
● Iman tidak bisa dicampuradukkan.
📘 Tafsir Singkat (makna ayat)
Menurut para mufassir (Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag):
Ayat ini bukan ajakan relativisme agama. Melainkan pernyataan prinsip:
♡ Islam menghormati keberadaan agama lain, tetapi tidak mencampurkan keyakinan
Ayat ini mengajarkan:
● Keteguhan dalam iman
● Kedamaian tanpa pemaksaan
● Batas yang jelas antara toleransi dan akidah
📜 Hadis Nabi Muhammad ﷺ
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
Artinya:
“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.”
(HR. Abu Dawud)
Makna singkat:
Hadis ini menegaskan agar seorang Muslim menjaga identitas dan prinsip keimanannya, terutama dalam hal akidah, ibadah, dan simbol khas keagamaan. Para ulama menjelaskan bahwa larangan ini bukan pada hal umum atau budaya netral, tetapi pada penyerupaan yang mengandung niat, makna, atau simbol keagamaan tertentu.
Di tanah yang kaya ritual dan keyakinan, kami belajar berjalan dengan dua pegangan: iman yang dijaga rapat di dada, dan toleransi yang dibentangkan luas dalam sikap.Berbeda keyakinan tak harus mengaburkan iman; justru di sanalah adab diuji, dan keteguhan menemukan maknanya.
Sumba, 15 Januari 2026
Masrifatun Nida'
Komentar
Posting Komentar