Tidak Sesuai Ekspektasi
Beberapa hari yang lalu, kami melakukan perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan, setelah pikiran yang di habisi, saatnya fisik yang di ajak menjalani, jauh sebelum perjalanan, saya sendiri sebenarnya agak mawas diri, sebab kali ini perjalanan yang akan dilewati menggunakan kapal yang belum pernah kami naiki. Apalagi cuaca ekstrem yang menemani akhir-akhir ini.
Ketika semua barang sudah kami list, satu persatu kami bungkus dan rapikan dengan alat yang bisa dibawa. Dan baru kali ini, karung kami ajak berkelana, hehe. Oh ya, sebelumnya ada beberapa orang baik datang, mengucapkan hati-hati bahkan beberapa memberikan kenang-kenangan dan juga doa tulus. Memandangi bangunan yang telah memberikan keamanan dan kenyaman selama kami tinggal disini, ah! Pasrah dan sedihnya ada, tapi tidak untuk diratapi. Saatnya berpamitan, dan ini merupakan momen yang menjengkelkan bagiku, air mataku selalu tumpah mana kali mengucap "Maaf ya pak(bu) atas segala khilaf selama bertetangga, dan terima kasih banyak atas bantuannya selama ini."
Bismillah, doa menjadi sebaik-baik senjata dan kali ini, beban berat sesekali terasa, dan kompromi adalah jalan ninja tuk meringankannya, kami sama-sama berjuang membawa barang-barang ini, sesekali mengeluh untuk menepi, merapikan dan menyetel ulang tatanannya. Dan gas motor kembali diongkel, tak lama mendung mengikuti, dan byur! hujan datang, kami menepi, sambil membangunkan si kecil yang usai mabuk perjalanan dengan roda dua, mengajaknya memakai jas hujan agar tetes air itu tak menembus badannya.
Seorang anak kecil yang mabuk mengendarai sepeda motor, cukup menjadi hiburan kami, kejadian ini mengingatkan pada kami sebagai orangtuanya, khususnya saya. (Dulu, saat hamil ia 4 bulanan, kami naik pesawat pagi-pagi, saat itu kami berangkat pukul 2 pagi dan sampai di bandara kurang lebih jam 6 pagi, setelah di cek banyak sekali rupa-rupa sebelum masuk gate, akhirnya kami dapat duduk tenang di kursi, nomor 30 itu diganti menjadi kursi nomor 1, dan sepanjang perjalanan itu, mual kerasa. Bawaan hamil plus perut kosong, double combo memang. Dan yah, kata suami baru kali ini melihat ada orang muntah di pesawat.) "Keanehan muntah di kendaraan yang tak biasa ini, menurun pada si kecil yang telah lahir itu"
Semangkuk soto dan setengah gelas air hangat telah ia keluarkan dari perutnya, kasihan betul melihat ia lemas. Dan saya memeluknya erat hingga sampai di pelabuhan. Tiba di dermaga, tak ada satupun manusia, padahal biasanya banyak bapak ibu berjualan di bibir jalanan itu. Seorang satpam tak membiarkan begitu saja kita masuk, ia mencegat, dan menyuruh kita mencari tempat meneduh. Motor segera berbalik arah, ibu penjual di dalam warung itu berteriak kencang pada kami "Belum buka pak, nanti tengah malam kapalnya akan datang!" Seorang satpam lainnya memberikan pertimbangan meneduh di mushola yang hampir terbengkalai.
Perjalanan kami lanjutkan, keputusan tepat tuh merilekskan kaki dan punggung di tempat tenang, sejam dua jam lumayanlah pikir kami, hotel yang terletak dekat dengan pelabuhan kami pilih, mencari makan sore dan menghirup udara segar kami nikmati. Niat hati tuk beristirahat, Alhamdulillah terpenuhi (khususnya saya, si kecil dan suami lebih memilih tuk bermain-main, lebih tepatnya si kecil mengajak bercanda suami, hingga tet waktunya check out tempat peristirahatan, mereka tak terlelap sedikitpun.)
Perjalanan gelap dan meliuk menuju pelabuhan, di jalan tak ada orang, "Apa tidak ada yang jalan ya malam ini dengan kapal Egon?" Pikirku.
Dugaanku salah! (Kata siapa orang Indonesia tidak tepat waktu? Sepertinya kalimat itu mudah sekali dipatahkan kalau melihat situasi malam ini. Mereka berbondong-bondong datang jauh sebelum jam satu (dini hari), meski antri dan akhirnya bisa masuk dan yaah, kapal jalan jam lima pagi, alamak!
-Terima kasih kepada sepeda merah dan yang mengendarainya, kalian telah berjuang penuh, semoga sehat-sehat selalu-. Melihat suami berjuang keras dan sepeda butut itu, rasanya nano-nano, rupanya perjalana kali ini semua diajak berjuang. Termasuk benda mati itu.
Egon, nama kapalnya, datang sekitar pukul 12 malam, dan hal itu membuat hati cemas pun tak karuan. Belum berani memberi kabar keluarga, khususnya ibu mertua sebelum semuanya tenang. Dan ya, bismillah ketika sudah tenang membereskan barang-barang masuk kapal, mendapat tempat tidur, dan bisa tenang duduk, pesan itu saya kirimkan. Memohon doa.
Ketika suara kencang di tekan, "Tooooooot!, tanda kapal berangkat. Benar-benar terasa kapal ini ombaknya, kepala puyeng tak karuan, obat mual itu sudah masuk ke dalam lambung, cukup membuat diri tak kelimpungan.
Kami bangun untuk sholat, ke kamar mandi, dan makan, selebihnya semua dilakukan dengan berbaring saja. Dan pukul 8 pagi, sampailah di Lembar, kami cepat-cepat turun kapal, berharap udara segar yang dihirup. Sampai di depan penjual ibu-ibu saya beranikan bertanya. "Ini bukan Gili Mas kah bu?" (Sebab tempat ini jauh berbeda dengan kapal Dharma Kartika V biasa bersandar). "Iya mbk, ini pelabuhan Lembar yang lama." (Pantas saja, fasilitasnya jauh berbeda).
Tak lama, kapal jalan lagi. Dan setengah perjalanan akan dilanjutkan, doa semakin kencang dipanjatkan. Oh ya, kapal Egon semakin bergoncang mana kala melewati selat-selat. Dan Alhamdulillah, semuanya telah usai kami jalani setelah berjuang ditengah lautan dengan kondisi yang tak karuan.
Sampailah di pulau Jawa, rasa lega memenuhi ruang kami.
Kapal Egon, meski tak sesuai ekpektasi, ia memberikan banyak sekali pengalaman menarik hati, tak seburuk apa yang telah saya pikirkan jauh-jauh hari, mengajarkan banyak hal, termasuk menjalani dan menerima apa yang ada. Mensyukuri setiap detik perjalanan yang telah di lewati.
Masrifatun Nida'

Komentar
Posting Komentar