Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

Kota[k] Euforia

Gambar
Hiruk pikuk ueforia Apakah hanya milik segelintir saja Janji yang tak di tepati Kata pemanis basa-basi Sedikit lupa sedikit ingat Kian nyata kesenjangan mengikat  Ah, ini milik siapa sebenarnya Hanya segolongan kah -Ku sruput lagi tehku, malam kian dingin, dan tehku seakan ingin membeku-

Pantaskah ku berbahagia?

Gambar
Gema takbir menyala Membelalak langit malam bercahaya Allahu Akbar  Allahu Akbar Allahu Akbar Laa Ilaaha Illallah Huwallahu Akbar wa Lillahil Hamd Allah Maha Besar Anak-anak terus bersemangat Mengumandangkan Asma-Nya Allahu Akbar

Berhenti

Nampak senja ranum di ujung petang Berubah gelap tanpa cahaya surya Namun gemerlap bintang mengalunkan indah memancarkan terangnya Aku menatap langit luas malam ini Nampak sepi selepas hujan sore tadi Aku menatap jendela yang terbuka menganga Sura desau semilir angin dan pepohonan Sepi, tanpa suara selain daripadanya

Nahkoda dan Samudra

Hari ini, bisa jadi hatinya berkeping-keping runtuh kembali, berserakan, dan ia mencoba menata kembali, tapi belum begitu kuat, rapuh. Hari ini, bisa jadi air matanya tak tumpah, tapi badannya bergetar hebat, jantungnya berdegup lebih kencang, menahan beban hebat yang menimpa. Hari ini, bisa jadi tatapannya kosong, namun di dalam kedalaman sukmanya mengaga sebuah luka. Hari ini, ia berduka kembali, di samudra yang luas ini ia di tinggalkan kembali (tanpa nahkoda). Hari ini, ia menengadah ke atas, mendongak di atas layar kapal besar diatas samudra luas , menatap tajam langit yang sama luasnya, bahkan lebih luas. "Allah, bersamamu bundaku sayang"

Puisiku puisinya

Selembar kertas menjadi saksi Ingin kuapakan kertas tersebut Kertas itu menatapku dengan tegas Seraya bertanya kenapa tak memanfaatkanku? Kau terdiam membisu dan terpaku Diam-diam kau meliriknya kembali Sebuah kertas yang semenjak tadi menatapmu dalam-dalam Sebuah kertas yang ingin kau tuliskan kata-kata seperti dahulu kala Ingin ku tulis sebuah sajak Tapi sajak apa yang pantas Ingin ku ciptakan sebuah cerita Tapi tak tau bagaimana memulainya? Mulailah menulis! Gerakkanlah tangan diatas kertas itu Akan muncul keajaibannya Perasaan itu akan tumpah bersama kata-kata dan sajak rindu

Selepas hujan (2)

Gambar
Aku ingin menjadi hujan Kalaupun tidak Aku ingin menari bersama hujan Aku ingin menjadi hujan Kalaupun tidak Aku ingin berteriak diantara hujan Aku ingin menjadi hujan Hujan yang lepas Selepas hujan Aku ingin menjadi hujan Tanpa beban Lepas Aku ingin menjadi hujan

And I'll be there

Gambar
Selalu ada tempat tuk menumpahkan semua hal Selalu ada waktu tuk meluapkan semua kejadian Selalu ada ruang untuk kita bertemu Selalu ada saja yang ingin ku adu Seperti malam ini Wajah teduh dan syahdu beriringan datang, ingin segera aku peluk Sentuhan tangan-tangan yang tak bosan menengadah itu, ingin rasanya mengusap derai yang ada dipipi Seperti malam ini Wajah teduh dan syahdu secepat kilat hilang dan lenyap Ingin rasanya segera bercerita banyak, tapi rasanya kemustahilan itu menjadi balasan apa adanya Seperti malam ini Wajah teduh dan syahdu tampak menunggu, menunggu ada yang berbicara

Selepas hujan

Gambar
Desember memasuki beberapa harinya Tak terasa, waktu-waktu kita telah habis menguap bersama Dua ribu sembilan belas akan tutup buku beberapa tanggal lagi Aku rasa, tahun ini adalah tahun penuh 'misteri' Meski selepas guyuran hujan membasahi relung hati Kau berhak tersenyum lagi, mengucap lirih "Allah Mahabaik" Sebab begitu banyak 'kejutan' yang telah dan akan dihadiahkan

Aku takut...

Di kota yang serba hiruk pikuk Semua melaju dengan kencangnya Dunia seakan berlomba Begitu pula di dunia pendidikan Di tempat yang layak Di dalam nuansa yang tenang Namun ada sesuatu yang mengancam Sangat kasat tak terlihat mata Tapi benar, ia menyusup dalam sukma

Gerimis

Beribu kata takkan sampai tuk diutarakan  Beribu rasa pun tak bisa digambarkan Beribu pelukan takkan puas dieratkan Beribu kecupan sayang takkan bisa tergantikan Maaf Sesenggukan jika teringat masih belum juga dapat membahagiakan Malu Basah pipiku jika sadar sesungguhnya cintamu takkan dapat tergantikan Di ufuk barat sana, matahari telah kembali ke peraduannya Tapi perhatianmu takkan pernah hilang di telan zaman Malam telah menyelimuti, tinggal lah sepi Tapi riuhnya doamu takkan pernah hilang walau hanya sesenti

Kata kataku terhenti (lagi)

Sudah lama ia tak datang Kemanakah perginya?  Memang bukan musimnya Tapi kenapa Sapardi berpuisi hujan bulan Juni?  Beberapa ku rindu hujan di bulan Juni Tapi musatahil terjadi Di penghujung Juni ini Di ambang pintu ku menanti Tak bisa berkata kata lagi Mengharap yang takkan ditemui Apa ini hanya perasaanku saja Hingga ku tak mampu menulis sajak lagi

Tumpah

Malam ini, malam ini terakhir kami duduk berbaris Malam ini, malam ini terakhir kita merapatkan shaf bersama Malam ini, air mataku tumpah Ukhuwah ini terjalin begitu erat duhai kawan dan anak-anakku Malam ini, bacaan ayat sang Imam meyayat hatiku Seakan semua artinya nampak dihadapan wajahku Malam ini, setiap rakaat tiba tiba ada air yang membasahi pipiku Ku usap, lalu tak tertahan mengalir lagi Tumpah Malam ini, aku rindu semuanya Rindu kehangatan keluarga Rindu sosok yang telah tiada Rindu menjadi pribadi yang lebih baik lagi Malam ini, rasanya tak mau lama-lama pamit dari ruang ini Malam ini, rasanya ku tak mau beranjak pergi Air mataku tumpah Malam ini, semoga bukan malam terakhir ku berjumpa denganmu ya Ramadhan Malam ini, semoga menjadi salah satu malam terindah ku menikmati setiap gerak ruku' sujudku Malam ini, semuanya tumpah Dan ku tak sanggup membendungnya Masrifatun Nida' Gresik, 16 Ramadhan 1440H

Muara

Tak pandai bermetafora Tak pula pandai bersajak ria Hanya sebatas perempuan penyuka pena Perempuan suka membaca dan menulis Menulis saja alakadarnya Itupun kalau hatinya sedang sumringah Itupun kalau hatinya sedang berkecamuk meredam duka Lewat secarik kertas bersama pena Ia goreskan kata-kata yang semoga bermakna Di ujung shaydunya purnama Ia berdoa "Semoga puisi-puisi buatannya segera menemukan muara"

Kembali lagi(?)

Puing-puing// Jatuh //Berserakan Untukmu masalah, terima kasih sudah hadir. Aku jadi tidak repot-repot kan mengetahui mana kawan dan lawan(?) Untukmu masalah, terima kasih sudi mampir. Aku jadi tahu kan siapa yang berhak aku mintai pertolongan(?) Untukmu masalah, terima kasih pernah memberi kisah. Aku jadi paham kepada siapa harusnya aku mendekat(?) Untukmu masalah, terima kasih telah memberi arti. Aku mengerti bahwa Allahlah sebaik-baik tempat kembali. Behinde the scene: 

Raib

Menyedihkan! Waktu telah terbuang sia-sia Yang diisi tanpa khusyuk Hampa! Jika dalam hati tak tersimpan Sang pencipta Terlalu sibuk saja dengan dunia Apa mau boleh dikata? Kau terlalu serakah Mengambil alih jatah Porsi akhirat yang jauh kekal kau permainkan begitu saja. Sayang! Jutaan kalimat taubat hanyalah omong kosong belaka Nyatanya sekarang kau sudah terpendam oleh tanah. "Ramadhan? Jangan kau terburu-buru meninggalkan kami. Ramadhan? Nuansamu jangan tiba-tiba raib seketika"

Berkelindan~

Gambar
Yang baru senantiasa berkelindan dengan yang lama Seperti jejak langkah yang harus ditempuh Memilih berhenti atau mendobrak keluar dari kenyamanan  Hey, bukankah semua adalah pilihan yang harus mendapatkan keputusan Pada semua yang lama dan membuat untaian hal hal baru kali ini  Terima kasih Karenamu, hari hari semakin mantap dan yakin untuk menetap Ya sesekali menatap bahwa keputusan baru diambil karena yang lama tak jemu menjadi pengingat

Tumbuh [Lantas] Runtuh

Gambar
Keping-keping, pelan-pelan, perlahan Bersamaan keyakinan utuh Menjadikan lebatlah kebaikan-kebaikan yang tumbuh Sayang seribu sayang Setitik hal yang merusak Menghancurkan segalanya Semuanya tiba-tiba runtuh~

Rindu pendidikan

Gambar
Ada rindu menggebu untuk mengulang duduk di kursi-kursi mungil. Berjejer, berbaris, bersalaman hendak memasuki ruangan penuh berkah kala itu. Di mulai membaca satu dua atau lebih ayat-ayatNya. Lalu, mendengarkan petuah-petuah guruku.  Ada rindu yang benar adanya. Manakala otak serasa penuh dengan angka dan kata. Manakala beberapa soal belum terjawab dengan sempurna. Tumpukan buku-buku yang dibeli dengan harga 'tak murah' bagiku kala itu. Aku merasa bersalah jika tak mampu menjawabnya pada kedua orangtuaku. Ada rindu menuntut ini itu agar aku tahu. Menuntut pada guru-guru yang sabar menuntunku. Ada rindu mengabiskan beberapa potongan waktu bersenda gurau dengan temanku. Lalu, tak terasa waktu habis, masing-masing dari kita pulang menenteng tas yang penuh dengan 'ilmu'.

Pada Bumi

Benar kata Mahatma Gandhi bahwa "bumi ini cukup untuk tujuh generasi, tapi tidak cukup untuk tujuh pengusaha serakah." Pada Bumi~ Selepas tanah basah ini menjadi saksi Betapa langit merindu untuk menurunkan derainya Seusai hawa panas memasuki segala ruang Ia datang menentramkan, menyejukkan, menumbuhkan banyak hal Tanaman itu kembali merekah segar Jiwa jiwa yang di rasuki amarahpun tiba-tiba mencair terbawa tetesan-tetesan damai Ber-kembang- Manusia-manusia yang tumbuh bersama terpaan hujan Mendewasa bersamaan Aku menyaksikan Ada yang hilang?

الشِّعر لسحر (Syi'ir adalah Sihir)

أَ، بَ، تَ...  حروف الهجائية  وأريد أن أكتب ماذا في هنا؟  كثيرة.  من حروف كن كلمة من كلمات كن جملة من جمل كن أنت أنت هو الشعر في شعري  وفي سعيدي وفي حزني يكلّم قلبي في شعري إذا أشعر خوفا أو فرحا يكون الشعر الدواء لأنّ لا تقبح الدّنيا وفيها أنت أكتب! لأنّ تحبّك~ مشرفة النداء جرسيك، ٢١ مارس ٢٠١٨