Postingan

Menampilkan postingan dengan label Rindu

Jalan Pulang

Di tengah hiruk pikuk dunia perantaun, selalu terbersit rasa "rindu" akan orang-orang tersayang. Hidup yang sehari-hari bersama suami dan anak, bertiga ketika kemana-mana dan melakukan apa saja, maka pulang kampung menjadi penghibur. Makin kesini, makin tersadarkan akan kalimat "Manusia akan datang dan pergi, tidak ada yang abadi". Dan, kembali ke pangkuan tanah kelahiran kali ini, merasakan betul saat bersilaturrahim kembali ke family dan sanak saudara, rupanya ada beberapa yang sudah tak dapat lagi di rangkul raganya. Mereka sudah lebih dahulu meninggalkan. Selepas kembali mengisi tangki cinta, menyimpannya erat-erat tuk menjadi pengingat kala rasa rindu datang. Selalu berdoa "Semoga Allah memberikan umur yang panjang dan berkah, semoga kita bisa kembali berjumpa dalam keadaan yang lebih baik lagi" Tenaga dan waktu yang dihabiskan, diatur dan dipersiapkan, nampaknya masih saja kurang. Mohon maaf bagi semua teman-teman yang berencana bertemu namun ditiad...

Kupang yang di Rindu

Gambar
Alhamdulillahirabbil Aalamiin, puji syukur kepada Allah swt yang telah memampukan kami ber3 menjalani perjalanan darat - laut dari pulau Sumba menuju Kupang dengan keadaan selamat. Fyi, pengalaman baru bagi saya pribadi apalagi Adeeva, kalau ayah Adeeva Alhamdulillah sudah pernah berlayar dengan beberapa kapal sebelumnya. Saya sendiri beryukur sebab akhirnya saya bisa merasakan naik kapal. Kalau ingat guyonannya ayah Adeeva tuh gini: "Langsung diijabah naik kapalnya yang besar dan bagus ya dek" saya cuma bisa jawab "Hehehe, alahamdulillah yaaaah maas :)" (Saya sebelumnya 2 kali sudah berencana naik kapal namun qadarullah belum rezeki. Yang pertama waktu pulang kampung akhir tahun 2022, saat hamil Adeeva 5 bulan. Disebabkan cuaca buruk, akhirnya jadwal kami di tunda esok hari, lalu esoknya kami sudah berangkat ke pelabuhan dan sudah ditinggal keluarga yang mengantar, qadarullah ada pemberitahuan kembali bahwa kapal tidak bisa berangkat sebab cuaca buruk. Alhasil k...

Suatu saat nanti

Seperti subuh ini, ku melihat bentangan langit yang tak terdistraksi oleh gedung-gedung tinggi, di depan kantor sekolah melihat dan menikmati syahdunya sayup-sayup bacaan kalam Allah, huruf perhuruf, kata perkara hingga ayat per ayat yang terbata untuk di hafal, meski sesekali teriakan anak-anak, gemuruh tawa memecah konsentrasi aku terus menikmatinya. Sudah pasti, suatu saat nanti aku akan merindukan moment indah seperti ini.  Masrifatun Nida' Gresik, (yang baru ditulis) 26 Ramadhan 1443H

Semoga keadaan jauh lebih baik

Apapun yang dilakukan sendirian untuk saat ini, cukup menyedihkan bagiku. Ramadhan sudah tuntas tiga hari kita kerjakan. Namun, di sebagian perasaan tersimpan kerinduan untuk melakukannya bersama. Sahur bersama, berjamaah bersama, melakukan aktivitas bersama, dan juga berbuka bersama. Namun, semoga apa-apa yang tengah terjadi, tak menyurutkan sedikitpun hati kecewa. Sebab, semua sudah ada takarannya. Ikhlaskan, sabar. Bismillah keaadan segera membaik. Teruntuk bundaku tersayang,  شفاك الله ... لا بأس طهور إن شاء الله... 

Nahkoda dan Samudra

Hari ini, bisa jadi hatinya berkeping-keping runtuh kembali, berserakan, dan ia mencoba menata kembali, tapi belum begitu kuat, rapuh. Hari ini, bisa jadi air matanya tak tumpah, tapi badannya bergetar hebat, jantungnya berdegup lebih kencang, menahan beban hebat yang menimpa. Hari ini, bisa jadi tatapannya kosong, namun di dalam kedalaman sukmanya mengaga sebuah luka. Hari ini, ia berduka kembali, di samudra yang luas ini ia di tinggalkan kembali (tanpa nahkoda). Hari ini, ia menengadah ke atas, mendongak di atas layar kapal besar diatas samudra luas , menatap tajam langit yang sama luasnya, bahkan lebih luas. "Allah, bersamamu bundaku sayang"

And I'll be there

Gambar
Selalu ada tempat tuk menumpahkan semua hal Selalu ada waktu tuk meluapkan semua kejadian Selalu ada ruang untuk kita bertemu Selalu ada saja yang ingin ku adu Seperti malam ini Wajah teduh dan syahdu beriringan datang, ingin segera aku peluk Sentuhan tangan-tangan yang tak bosan menengadah itu, ingin rasanya mengusap derai yang ada dipipi Seperti malam ini Wajah teduh dan syahdu secepat kilat hilang dan lenyap Ingin rasanya segera bercerita banyak, tapi rasanya kemustahilan itu menjadi balasan apa adanya Seperti malam ini Wajah teduh dan syahdu tampak menunggu, menunggu ada yang berbicara

Hujan bulan ini

Gambar

Kata kataku terhenti (lagi)

Sudah lama ia tak datang Kemanakah perginya?  Memang bukan musimnya Tapi kenapa Sapardi berpuisi hujan bulan Juni?  Beberapa ku rindu hujan di bulan Juni Tapi musatahil terjadi Di penghujung Juni ini Di ambang pintu ku menanti Tak bisa berkata kata lagi Mengharap yang takkan ditemui Apa ini hanya perasaanku saja Hingga ku tak mampu menulis sajak lagi

Takut

Detik-detik melepaskannya terasa amat menyiksa. Ku rasa aku belum bisa maksimal menjamumu, belum juga totalitas melayanimu, namun diujung pertemuan ini, izinkan ku sampaikan pesan untukmu "Semoga aku bisa lebih baik selepas kepergianmu, agar kelak jika masih Allah perkenankan pertemuan kita berdua, kau lebih bangga melihatku ya Ramadhan" Masrifatun Nida' Rumah, 29 Ramadhan 1440H

Sesak, terisak

Gambar
Semalaman, mengapa kau tak tertidur? Semalaman, apa yang sedang kau renungkan?  Semalaman, siapa yang kau pikirkan?  Semalaman, kau bertanya dimanakah tempat berpulang?  Sesak.  Kau tutup rapat mulutmu, dan dadamu berdegup kencang Terisak.  Hanya air mata dipipimu menjadi jawaban Mengapa bisa begini?  Kecewa cukup malam ini dan lupakan semua Sebab Rahmat Allah masih luas terbentang  Jangan lagi dadamu sesak dan kau terisak

Rindu tausiyah

Rasa rasanya, sungguhlah berbeda suasanya jika sudah di rumah. Hal yang paling di rindukan adalah tausiyah. Nasehat, taujih apapun yang maraji'nya dari para Imam masjid/musholla kala saya berjamaah. Biasanya beberapa Imam akan mengutip beberapa dalil dari Riyadus Sholihin atau tadabbur al Qur'an atau juga membenturkan terhadap hal yang terjadi disekeliling ditambah dengan dalil. Malam ini, saya rindu itu.  Rupanya Allah menjawab kegundahan saya. Kali ini, tausiyahnya berbeda, tidak dari para Imam, tapi dari teman-teman. Malam ini, saya seakan langsung di tampar dengan berbagai cerita hidup simple tapi begitu mengubah plan hidup seseorang. Setiap keputusan, setiap apapun yang menghadang kita, wajib untuk kita tentukan jawaban. Kalau kata teman saya begini "Ternyata yang paling berat selain meninggalkan adalah menjalani" lalu saya ingat pesan teman saya satunya lagi: "Bahwa hidup ini perlu dijalani dengan ikhlas"

Tumpah

Malam ini, malam ini terakhir kami duduk berbaris Malam ini, malam ini terakhir kita merapatkan shaf bersama Malam ini, air mataku tumpah Ukhuwah ini terjalin begitu erat duhai kawan dan anak-anakku Malam ini, bacaan ayat sang Imam meyayat hatiku Seakan semua artinya nampak dihadapan wajahku Malam ini, setiap rakaat tiba tiba ada air yang membasahi pipiku Ku usap, lalu tak tertahan mengalir lagi Tumpah Malam ini, aku rindu semuanya Rindu kehangatan keluarga Rindu sosok yang telah tiada Rindu menjadi pribadi yang lebih baik lagi Malam ini, rasanya tak mau lama-lama pamit dari ruang ini Malam ini, rasanya ku tak mau beranjak pergi Air mataku tumpah Malam ini, semoga bukan malam terakhir ku berjumpa denganmu ya Ramadhan Malam ini, semoga menjadi salah satu malam terindah ku menikmati setiap gerak ruku' sujudku Malam ini, semuanya tumpah Dan ku tak sanggup membendungnya Masrifatun Nida' Gresik, 16 Ramadhan 1440H

Lima Ramadhan

Alhamdulillah, malam ini saya sholat isya' dan terawih berjamaah di perumahan, tampak masih sesak tiap ruang. "Hehehe ya karena memang mushollanya jauh lebih sempit juga si dibanding rumah-rumah para penduduk perum" (pikir saya dalam hati) musholla inipun ramai dengan semua elemen, para warga perum, para PRT, bahkan anak-anak para penghuni perum juga. Malam ini yang menjadi Imam adalah kepala sekolah saya rupanya, Ustadz Nasyiruddin, Lc. Beliau menyampaikan tentang surat Yusuf.  وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang. QS.Yusuf, Ayat 53

Malam

Dalamnya doa akan sampai pada tujuannya Rindunya jumpa akan sampai pada pertemuan tak terkira Ramadhan selalu manarik menjadi spesialnya kisah  Kalau kata Deva Mahenra "Puasaku untuk-Nya, puisiku untukmu" Bagaimana kabarmu? Ku harap doa, rindu & Ramadhan kali ini adalah sepaket guna mempertebal ketakwaan kita pada Allah, meningkatkan tawakkal kita atas segala Janji Allah pada hambaNya.

Kembali bertemu, bertemu kembali

(25/12/18) Duhai waktu, hari-hari ini kau mengajarkan banyak arti Tentang menunggu Tentang bertemu Lalu kembali Duhai kesempatan, hari hari ini kau mengajarkan ketidaksia-siaan Tentang mengambil keputusan  Tentang memilih Tentang menerima Tentang melakukan yang terbaik saat ini Duhai kau, hari hari ini yang telah mengajarkan apa arti setia Tentang menahan Tentang menjaga Tentang mengerti antar sesama Kita kembali tuk bertemu  Atau kita bertemu tuk kembali 

Rindu untuknya (Rindu tak kunjung temu)

Kalau menurut KBBI, ada dua pengertian rindu. rindu: rin·du adj 1. Sangat ingin dan berharap benar thd sesuatu 2. Memiliki keinginan yg kuat untuk bertemu (hendak temu) Beberapa tahunan yang lalu, saat masih jadi mahasiswa di kota rantau Malang, di waktu yang sama seperti ini (baca: weekend) waktu-waktu longgar begini, kalau jadwal organisasi free paginya akan aku habiskan untuk pagi-pagi subuh jalan2 keliling kerto sambil ngapelin mang sayur, lalu masak. Oh ya, saat itu, ada salah satu sahabatku minta janjian buat ketemu, tempat sudah di tentukan di basecampku (maksudnya kontrakan lah, heheh :)). Alhamdulillah, saat itu dianya tepat waktu, sudah dateng rapilah, gak kaya waktu-waktu dimana aku yang harus nungguin sejam-duajam jadi hal biasa. Pagi menjelang siang kala itu, kita habiskan bercengkrama mikirin hal-hal sederhana yang 'mengusik' diri kita. Tiba-tiba dianya bilang.. Dia: "Eh Nid, menurutmu hal yang paling menyakitkan dari rindu apa si?" ...

Jarak

Gambar
Riuh rendah hati berbisik Menguatkan sukma Bahwa keputusan, sudah di timbang-timbang Bukan karena ego, sebab mencarinya dalam kejernihan Namun, sebab bahagia bersama yang diharapkan sejatinya -nanti- Hal itu, jika caranya salah maaf Jika waktunya kurang tepat maaf Di ujung sana, ada yang begitu teduh menjawab kegundahan jiwanya Pelan-pelan Tak pernah sedikitpun membalas dengan yang serupa, tapi selalu menenangkan Selalu, bagian itu yang sejak lama telah membuatnya tersihir Terima kasih, sudah menjadi baik

TANPAMU, Aku bisa apa?

"Sajakku hadir kembali Pada aksara yang tak tertulis sebab hendak mati Energiku tumbuh kembali Pada jiwa yang merindu kepercayaan jati diri Dan KAU selalu ada, tak kemana-mana, tapi kurasa keberadaan itu lebih dekat kali ini Pada hati yang sebelumnya masih merasa sendiri" -Singkat sajakku yang kembali- Manusia itu takkan bisa hidup sendiri, selalu mengharap orang lain disisinya, selama hal itu menambah kebaikan-kebaikan dalam irama kehidupannya. Ia selalu membutuhkan seseorang itu. Bahwa benar, sesorang yang mampu memberi energi luar biasa, mampu melipatgandakan kebaikan-kebaikan yang hendak dilakukan. Seseorang itu yang berada disekelilingnya, yang tampak sekali, bisa keluarga, teman, sahabat, rekan kerja, anak didiknya dan lainnya. Pun bisa jadi yang tersimpan dihati, seseorang yang sanggup membuat berkalilipat semangatnya berbuat kebaikan, melakukan perbaikan hingga kini dan sampai nanti. Dan seseorang itu bisa jadi tidak tahu dengannya, pun dia rapat menyimpann...

Waktu kita berdua

Agustus, dua ribu tiga belas… Langkahnya mengantarkan anak perempuan terakhirnya Saat kali pertama jauh dari rumah, tanpa sanak saudaranya Peluk gadis itu pada bapaknya Berpamitan dan kecup salam tangannya Berkata Assalamu'alaikum tanda berpisah sementara Dan akhirnya punggungnya meninggalkan tempat berdiri semula *** Seketikanya... Sedetik biasa saja Semenit setelahnya, ketika bayang sudah diambang dan tak terlihat kasat mata Hatiku membuncah menangis tak terkira Dipojokan rumahNya aku menangis menjadi-jadi tak peduli sekeliling Aku hanya pura-pura tegar saat ada bapak Aku ingin dilihat bapak bahwa aku sudah kuat untuk dilepas jauh dari rumah Aku berharap doa bapak selalu merangkul kala lemah Aku ingin mengharap Ridho bapak bahwa mimpi ini harus terwujud Kala itu, dua ribu tiga belas Awal jauh dari bapak…~ *** Juni, dua ribu enam belas Lima Ramadhan tahun 1437 Hijriyah