Perjalanan Sebagian Orang

"Hidup adalah perjalanan yang penuh dengan keajaiban yang tak terduga."
Kali ini, perjalanan kami tempuh lewat jalur air, yups! Naik kapal laut. Namun, sebelum menikmati asyiknya fasilitas kapal, kami harus melewati perjalanan cukup waktu menuju pelabuhan dari tempat kami tinggal.

Setelah semua barang yang jumlahnya cukup banyak dibanding dengan sebelum-sebelumnya acara "mudik" ini kami lakukan. Beberapa hari yang lalu, saya catat dan list aneka rupa barang bawaan. Kami menyepakati keputusan bahwa "Suami naik motor, membawa beberapa barang bawaan. Saya & Adeeva naik mobil travel dengan beberapa barang pula."

"Pak sudah dimana?" Tanya suami ke sopir mobil travel lewat gagang telepon
"Su dekat mas." Jawab singkat sopir

Barang satu persatu kami angkut. Nampaknya, rencana kami tentu sudah diatur jalannya sama Sang Kuasa. Semua naik ke dalam mobil yang cukup besar -termasuk motor suami-.

Pintu dan jendela ditutup, hujan deras mengguyur kota Waikabubak. Disepanjang jalan, banyak hal yang patut disyukuri. Ya rencana Allah sungguh luar biasa baik buat kami sekeluarga. [Kami tidak jadi berbeda kendaraan, (jadi bisa saling menolong jika ada yang membutuhkan bantuan.) Suami tidak kehujanan, kemungkinan saling tunggu pun tidak ada, dan masih terlalu banyak lagi hal-hal baik yang tidak cukup tuk dituliskan.]

Gas mobil melaju kencang, sesekali sopir berhenti di beberapa tempat langganan tuk mengambil & membawa pesanan. Sesekali pula ia bercerita aneka rupa. Mulai dari masa lalu yang kelam, tentang bagaimana ia dulu bertemu dengan istrinya, bagaimana ia menikah dengan orang sunda itu, dan juga cerita tentang ia sebagai suami yang amat bangga dengan istrinya yang menjadi kepala sekolah TK saat ini. -Ya, beberapa perjalanan sebagian seseorang membuat berdecak kagum.-

"Ini loh dek, yang kapan hari tak ceritain -beliau tidak mau ambil job hari jum'at." Celetuk suami
"Oh iya mas." Jawabku
"Hehe, iya mbak kita gak tau diperjalanan mbak, kuatir nanti gak keburu sholat jum'atan, apalagi spesialnya juga kan harus mendengarkan khutbahnya." Jawab beliau.

Pak sopir melipir, ia izin tuk sarapan sejenak lalu melanjutkan perjalanan.

Di jalan, Adeeva muntah cukup banyak. Ia sepertinya masih terus belajar menyesuakan jalanan Sumba Timur yang cukup berkelok, saya dan suami berusaha sigap menangani, pak sopir melipir kembali.

Perjalanan dilanjutkan, tak lama kami istirahat di langgaliro, sebuah rest area yang amat ramai di jalanan ini. 2 mangkok soto ayam hangat suami pesan, kami kompak menyuapi Adeeva yang Alhamdulillah sudah enakan dan lahap makan. 2 teh hangat pun dipesan, kami jelaskan bahwa ini milik kami, Adeeva cukup minum air putih saja. Ia manut mengangguk tanda paham dan dijalankan.

Setengah perjalanan menuju pelabuhan sudah kami tempuh, melanjutkannya kembali membuat badan semangat karena sudah terisi amunisi.

Sampai dipelabuhan masih sepi. -Tentu saja, pemberangkatan kapal pukul 17.00 WITA mundur pukul 21.00 WITA, hehe cukup membuat badan pegal dan kehabisan cara menghibur Adeeva yang sudah banyak tingkah dan idenya.- Ironisnya, di akhir akan saya ceritakan pukul berapa akhirnya kapal datang dan kami masuk kamar(?)-.

Barang bawaan kami angkutkan dengan menyewa gerobak plus porternya. Kami bertiga berboncengan sampai depan loket pelabuhan. Ada Oma bersama entah anak atau cucunya sudah menunggu. Lalu, kami atur barang bawaan. 

Meluruskan kaki, meregangkan otot, berbaring sebentar -meski tempat tidak ideal-, lanjut bergantian gendong Adeeva melihat laut dan kapal kecil yang berlayar, dan makan siang. Pukul 12.30 WITA kami putuskan meninggalkan barang bawaan di pelabuhan, membawa sebagian barang penting dan menitipkannya ke Oma tadi yang di awal saya ceritakan.

Suami mengajak sholat di masjid dekat pelabuhan, kami izin petugas jaga gerbang pelabuhan, dan motor melaju syahdu, menikmati bukit-bukit hijau tenang Waingapu, tak sempat mendokumentasikan, cukup disimpan di memori dan dinikmati lewat mata kali ini.

Sebelum ke masjid, kami isi bensin terlebih dahulu, suami menawarkan makanan apa yang enak dibeli, saya menanggapi, walhasil putar mencari cemilan dan snack buat Oma kata suami. Adeeva kami tawari fresh milk pun menyetujui.

Rintik gerimis mawarnai perjalanan kali ini. Setelah semua didapat, lanjut memandikan Adeeva di masjid, kami tunaikan sholat, dan kembali ke pelabuhan.

Sudah cukup banyak orang, ya meski masih bisa dihitung jari.

Disamping tempat kami menaruh barang, ada seorang ibu yang memandikan anaknya usia 2 tahun lebih. Tak lama, kami bekenalan, bertukar cerita lanjut ia ceritakan semua keluh kesahnya "Beban adat tinggal di Sumba". Kami tercengang, mengetahui banyak fakta di lapangan yang begitu miris. Hingga terucap di bibirnya "Meski saya dan suami pns, nanti saat pensiun saya mau pulang ke Kupang saja, mbak" celetuk beliau.

Sudah cukup lama ibu tersebut tinggal merantau ikut suami, hampir 15 tahun, tapi hatinya masih berat meninggalkan Kupang. Mendengar kisahnya yang berjuang ditengah gempuran adat dan kemalingan, barangkali itu adalah solusi terbaik, di akhir ia bercerita ke kami hendak mendatangani surat serah terima rumah yang sudah selesai di bangun di Kupang. Ucap syukur kami berdua kompak disuarakan.

Waktu cepat berlalu saat senja sudah datang, hamparan hijau bukit Waingapu berubah menjadi hitam legam. Adeeva masih full energi, sedang kami yang sudah cukup terkuras energinya, beberapa kali bergantian menggendong.

"Wah, ikannya bermunculan Adeeva. Banyak sekali, sepertinya sore tadi tidak ada ya, wah warna-warni, bagus sekali Adeeva. Rasanya ingin sekali ibu serok, ibu ambil." Saya tak berhenti bicara saking amaze dan girangnya.
"Kan, ikan." Teriak Adeeva

Kini giliran suami yang mengajak Adeeva. Setelah saya ceritakan betapa banyak ikan yang muncul.

Tak lama saya menyusul, kami bertiga kembali melihat ikan-ikan itu, pelabuhan sudah semakin ramai dengan penumpang, semakin sumuk bin panas, butuh kesegaran.

Kembali ke teras pelabuhan, rupanya -check in- sudah dimulai.

Kami sudah mengantongi tiket, maka tinggal klik beberapa point lanjut mengambil gelang dan duduk di ruang tunggu. Ruang tunggu masih lenggang, suami mengajak untuk bergantian sholat dan lainnya mengajak Adeeva. 

Pukul 21.00 WITA, jam yang harusnya kapal sudah berangkat ke Kupang, namun belum juga ada tanda-tanda kedatangan kapal di Sumba. Ruang tunggu semakin ramai penumpang, beberapa detiknya lagi malah makin kuwalahan, semakin sesak tak karuan. Sebagian di dalam pelabuhan, sebagian malah menunggu diluar.

Suami menghampiri saya dan Adeeva di ruang tunggu. Sekitar pukul 22.00 WITA.
"Wah, ramai sekali dek. Ini orang-orang baru turun. Nanti naik juga orang-orang bakal rame." Ucapnya.
Beliau telah sibuk mempersiapkan barang-barang untuk diangkut ke motor. Lalu mempersiapkan agar nanti bisa membawa saya dan Adeeva lewat jalur orang berkendara.

Di ruang tunggu, Alhamdulillah Adeeva terlelap dalam dekapan. Meski kipas angin pelabuhan mati, saya sudah siap sedia dengan kipas angin portable yang kami bawa. Meski banyak sekali penumpang yang membawa anak kecil ramainya tak karuan, Adeeva tak bergeming dari tidur nyenyaknya.

Disampingku duduk, sejak tadi ibu-ibu mengeluh naik kapan, nyalimya ciut sebab melihat lautan manusia hiruk pikuk di pelabuhan.
"Saya sudah disini dari jam 12 siang, bu." Ucap saya membuka obrolan.
"Wah, dari mana mbak?" Tanyanya.
"Dari Waikabubak, Sumba barat bu. 3 jam perjalanan ke Waingapu, Sumba timur." Jawabku.
"Saya di Sumba Timur paling ujung mbak, naik truck ke sini 9 jam." Tangkasnya
Lanjut ia tanya banyak hal, dan sampai di ceritanya.
"Saya pernah di Jawa 10 tahun mb, tepatnya di Lawang, Malang, Jatim. Belajar Al Kitab" 

Pukul 23.30 WITA suami mendatangiku, membawakan barang-barang, dan membenarkan tali sepatuku. Kami lanjut naik ke kapal duluan di bandingkan penumpang lainnya sebab membawa kendaraan.
"Mari bu." sapa dan pamit kami ke ibu-ibu disamping tadi.

Memasuki ke dalam kapal, penuh sesak dan panas sekali. Alhamdulillah pukul 24.00 WITA kita sudah di dalam kamar. Alhamdulillah setelah Adeeva ganti popok, kami istirahat masing-masing. Menunggu lebih dari 12 jam, betapa pegalnya badan dan ingin rebahan.

Esoknya, pukul 05.00 WITA kami bangun, sholat. Pukul 08.00 WITA kami sarapan, lanjut istirahat kembali setelah berjalan-jalan dan membaca buku di perpustakaan. Pukul 12.00 WITA kapal bersandar dan pukul 13.00 WITA kita lanjutkan menuju kediaman orangtua.

Sumba-Kupang, 19-20 Des 2024
Masrifatun Nida'

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Sesuai Ekspektasi

Alhamdulillah, 2 Tahun Adeeva

Tenang dan cukup